Hal ini dikatakan oleh Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan saat dihubungi di Jakarta, Rabu (8/4/2009).
"Di kuartal II-2009, pemerintah harus bisa lebih mempercepat akselerasi stimulus dan APBN lebih kencang lagi, sambil juga menjaga spending (pengeluaran) masyarakat. Kalau hal itu bisa dilakukan, barangkali pertumbuhan ekonomi kuartal II-2009 tidak akan buruk," tuturnya.
Seperti diketahui, Departemen Keuangan memprediksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2009 mencapai 4,3%-4,8% sementara Bank Indonesia memprediksikan sebesar 4,6%. Angka ini menurun dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2008 yang masih di atas 5%.
"Andalan kita untuk pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi, sekaligus adanya kampanye dan juga harus ada penguatan pasar dalam negeri. Kalau konsumsi diperkuat, tapi belanja impor tambah besar, namanya leakage atau kebocoran. Kalau belanja produk dalam negeri lebih efektif," katanya.
Peranan konsumsi rumah tangga dan swasta dalam pertumbuhan ekonomi cukup besar dibandingkan peranan ekspor.
"Peranan ekspor cuma 30% dalam komposisi PDB pada 2008. Konsumsi rumah tangga dan swasta 61%, dua kali lipat dari ekspor. Konsumsi pemerintah 8,4%. Investasi 27,7%," ujarnya.
Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan jajarannya yaitu Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan sedang mempersiapkan mekanisme birokrasi pencairan anggaran yang lebih sederhana sehingga tidak memakan waktu lama dan penyerapan belanja bisa lebih maksimal dalam mendorong laju perekonomian.
(dnl/lih)










































