Demikian terungkap dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2008 oleh Bank Indonesia yang dikutip detikFinance, Kamis (9/4/2009).
"Harga minyak mentah pada tahun 2009 diprakirakan mencapai US$ 43 per barel, lebih rendah dibandingkan 2008 yang mencapai US$ 94 per barel," ujarnya.
Perlambatan ekonomi global pada 2009 akan mendorong pada turunnya harga minyak dunia dan komoditas energi lainnya. Harga komoditas non energi di 2009 diprakirakan juga akan melemah dibanding tahun 2008. Harga komoditas global diprakirakan turun 22 persen.
Bank Dunia memprakirakan harga komoditas bahan makanan dan logam pada 2009 akan turun masing masing 23 persen dan 26 persen.
Dalam laporan tersebut dikatakan, pertumbuhan ekonomi dunia di 2009 akan melambat, dimana perekonomian dunia melambat tajam di 2009 menjadi 0,4 persen dari 3,4$ di 2008. Akibat kondisi ini, volume perdagangan dunia akan tumbuh melambat sebesar minus 3 persen.
Sementara itu, IMF memprakirakan pertumbuhan ekonomi di AS pada 2009 akan sebesar minus 1,6 persen, kawasan Eropa minus 2 persen, Jepang minus 2,6 persen.
Kontraksi ekonomi di negara maju ini akan berdampak pada perekonomian negara berkembang melalui turunnya permintaan ekspor, turunnya harga komoditas global dan menurutnnya remmitance tenaga kerja di luar negeri.
Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi negara berkembang diprakirakan tumbuh 3,3 persen.
(dnl/lih)











































