Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu kepada wartawan di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (16/4/2009) malam.
"Proyeksi Depkeu minus 5 sampai 9 persen untuk kuartal pertama. Lebih pesismistis karena kita lihat ini dari kuartal keempat 2008 dan pertama 2009. Tapi kalau sudah hit bottom (menyentuh titik terendah), harapannya membaik di sekitar kuartal 2 dan 3," ujar Mari.
Menurut Mari, peningkatan nilai ekspor di kuartal berikutnya sangat bergantung pada seberapa cepat pemulihan ekonomi di negara maju dan juga pengaruh stimulus terhadap negara lain seperti China dan India.
"Mereka kan juga punya stimulus. Jadi pekerjaan rumah kita yaitu mengamankan ekspor dengan segala ancaman tapi untungnya kita masih punya pasar dalam negeri," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Mari menambahkan turunnya harga komoditas dinilai sebagai penyebab utama turunnya nilai ekspor Indonesia tahun ini hingga minus 30 persen.
"Memang kontraksinya sekitar minus 30 persen itu sebagian besar disebabkan karena pengaruh harga turunnya harga komoditi. Harga komoditi pada 2008 itu tinggi sekali dibanding sekarang. Kalau sekarang harga itu balik lagi ke tahun 2006 dan 2007," jelas Mari.
Namun jika keadaan ekonomi sudah kembali normal, imbuh Mari, kontraksi tersebut bisa minus 10-20 persen.
"Tapi kalau keadaannya membaik kontraksinya bisa minus 10-20 persen," katanya.
Untuk segi volume ekspor, paling optimistis volume akan tetap atau pertumbuhannya 0 persen. Sementara skenario persimistis yang disiapkan pemerintah adalah volume ekspor bisa turun 10 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(epi/lih)











































