Hal ini dikatakan oleh kepala Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu dalam jumpa pers di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (20/4/2009).
"Dari selisih antara penerimaan dan belanja negara pada kuartal I-2009 masih surplus Rp 2,9 triliun, kemudian dari penerbitan surat utang dan juga penarikan utang luar negeri ada surplus Rp 54 triliun, jadi jumlah surplusnya Rp 57 triliun," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama kuartal I-2009, neraca perdagangan kita masih surplus, neraca modal juga positif karena adanya FDI (Foreign Direct Investment/investasi langsung) yang masuk, cadangan devisa kita juga kuat yaitu sekitar US$ 54 miliar lebih, belum ditambah dari sukuk global," paparnya.
Untuk jumlah FDI kuartal I-2009, Anggito belum bisa mengatakan jumlah persisnya, namun yang sudah masuk adalah dari investasi Qatar Telecom (Qtel) ke Indosat dan juga penerbitan GMTN (Global Medium Term Notes).
Selain itu, belum cairnya stimulus fiskal khususnya infrastruktur pada kuartal I-2009 turut menyumbang surplus APBN pada kuartal I-2009.
"Namun pada kuartal-kuartal selanjutnya nampaknya penyerapan akan lebih tinggi lagi, sehingga surplus pasti berkurang," pungkasnya.
(dnl/qom)











































