Untung KAI Turun Tajam, Ini Biang Keroknya

Untung KAI Turun Tajam, Ini Biang Keroknya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 02 Agu 2026 17:30 WIB
Calon penumpang KAI Divre I Sumut sedang menunggu jadwal keberangkatan
Foto: Calon penumpang KAI Divre I Sumut sedang menunggu jadwal keberangkatan (Dok. Siti Asyaroh/detikSumut)
Jakarta -

Laba PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengalami penurunan pada semester I 2026. Dalam laporan keuangan KAI Group (unaudited), perusahaan membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 842,69 miliar dan laba tahun berjalan sebesar Rp 314,03 miliar di semester I 2026.

Angka tersebut turun dalam jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya di mana laba sebelum pajak tercatat Rp 1,86 triliun dan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,18 triliun.

Penurunan laba dipengaruhi peningkatan pencatatan rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan, dari Rp 948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp 3,00 triliun pada semester I 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, pendapatan perusahaan mengalami peningkatan pada semester I 2026. KAI mencatat pendapatan sebesar Rp 17,96 triliun meningkat 6,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.

ADVERTISEMENT

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kegiatan bisnis utama KAI Group terus menguat seiring pertumbuhan layanan, peningkatan produktivitas, pengelolaan biaya, serta sinergi seluruh entitas perusahaan.

"Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).

Lebih jauh, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 104,79 triliun. Total liabilitas mencapai Rp 65,11 triliun, turun dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp 66,14 triliun.

Sementara itu, total ekuitas meningkat dari Rp 39,29 triliun menjadi Rp 39,69 triliun. Pada periode yang sama, utang jangka pendek turun dari Rp 16,20 triliun menjadi Rp 15,17 triliun.

Sebagai informasi, salah satu usaha patungan KAI adalah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), perusahaan itu merupakan operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Pilar Sinergi BUMN Indonesia masih mencatatkan rugi hingga Rp 5,13 triliun. Total liabilitas Pilar Sinergi BUMN Indonesia juga tercatat lebih tinggi daripada total asetnya, yakni Rp 21,54 triliun dan Rp 21,52 triliun.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan pihaknya masih perlu waktu untuk menyelesaikan masalah yang membebani keuangan KAI. Salah satunya adalah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin," ujar Dony kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026) yang lalu.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads