Ungkapan terimakasih ini disampaikan langsung oleh (PM) Malaysia Dato Sri Mohd Najib bin Hj Tun Abdul Razak usai pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis (23/4/2009).
"Terimakasih kepada Presiden yang menawarkan supaya kawasan Natuna diusahakan oleh Petronas," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Najib sendiri tidak menjelaskan apakah ungkapannya itu berarti Petronas menjadi partner Pertamina atau sebaliknya. Presiden SBY pun tidak menyinggung-nyinggung soal Natuna dalam konperensi pers yang digelar bersama.
Distribusi Gas ke Malaysia dan Thailand
Secara terpisah, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, adanya skenario distribusi gas dari Blok Natuna D Alpha agar menggunakan transpipeline yang sudah tersedia ke Batam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Dengan menggunakan pipa berarti PT Pertamina (Persero) bisa mengurangi biaya investasi karena tidak perlu menurunkan kadar Co2 (Karbondioksida).
"Natuna kalau dibawa pakai pipa bisa bawa gas dengan kandungan CO2 yang tinggi menggunakan LNG floating," ujar Purnomo dalam seminar 'Mampukah Sektor Migas Derkontribusi Menuju Kemandirian Energi Nasional' di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis (23/4/2009).
Untuk itu, lanjut Purnomo, pihaknya menyarankan untuk menggunakan kombinasi pipa dan LNG floating untuk menyalurkan gas.
"Sehingga ada pemikiran sekarang kalau ada 50 TCF di East Natuna maka bisa gunakan kombinasi pipelines dan floating LNG," ungkapnya.
Jika itu terealisasi, lanjut Purnomo, maka Blok Natuna bisa menyuplai gas ke Batam, Malaysia dan Singapura. "Itu bisa bantu supplai ke sana seandainya kontraknya masih berjalan."
Purnomo menambahkan pihaknya juga sedang mencari kemungkinan-kemungkinan mendistribusikan ke daerah lain seperti Rayong, Thailand.
"Mungkin masuk ke Rayong, Thailand. Sementara ini masih bicara soal kemungkinan harga kemungkinan bawa gas ke rayong. Sementara itu, kita masih persiapkan pengembangan natuna," ungkapnya.
(lih/qom)










































