"Pak Wapres setuju ada pilot project sehingga bisa diketahui seberapa jauh
keunggulan yang ada pada konstruksi baja," ujar Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Yusuf Asy'ari usai rapat tentang pembangunan rumah susun dengan JK di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (29/4/2009).
Belum bisa dipastikan di mana pilot project itu akan dibuat. Karena ada beberapa alternatif pilihan lokasi pembangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pilot project, imbuh Yusuf, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto juga akan mencari second opinion dengan menguji kelayakan konsep yang diajukan KS. Proposal KS itu akan diuji di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman (Puslitbangkim).
"Kira-kira 1 minggu sudah akan ada hasilnya," imbuhnya.
Sedangkan Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang mengatakan telah mengajukan proposal untuk membangun rusun yang berkonstruksi baja karena beberapa keunggulan. Seperti harga baja yang sudah turun, dari US$ 1.200 per ton tahun lalu menjadi US$ 500 per ton tahun ini. Diperkirakan harga baja ke depan tak terjadi kenaikan menyusul stabilnya harga minyak.
"Tentang keamanan, baja sangat dinamis sehingga tidak gampang terdeformasi. Kalau terkena beban tidak besar bisa kembali ke bentuk semula. Kalau bebannya sangat besar sifatnya plastis. Sehingga kalau ada goncangan, bangunan belum rubuh penghuni masih bisa menyelamatkan diri," papar Fazwar.
Mengenai biaya belum dihitung persis, tapi dipastikan tidak berbeda jauh dengan rusun yang berkonstruksi beton.
Selain itu, pembangunan rusun dengan konstruksi baja ini akan terstandarisasi. Baik standarisasi kualitas baja, konstruksi, desain hingga standarisasi kontraktor.
"Krakatau Steel atau anak perusahaannya Krakatau Engineering tidak bermaksud untuk menjadi monopoli di sini. Kita tidak bermaksud untuk menajdi kontraktor sekaligus fabrikan. Tapi kami akan menstandarisasi desain dan material," jelasnya.
(nwk/lih)











































