SBY diduga akan memilih kalangan teknokrat untuk periode keduanya karena sulit mengambil pendamping dari politisi yang banyak friksinya. Di sisi lain SBY juga membutuhkan wakil yang sangat piawai dan mengerti ekonomi.
Boediono dianggap sosok yang tidak kontroversial dan lebih mudah diterima berbagai pihak. Kemampuan Boediono dibidang ekonomi juga tidak diragukan lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya praktisi pasar saham Dandossi Matram juga melihat Boediono sebagai sosok yang tidak ditolak. Meskipun ada pertanyaan dengan sikapnya yang kelewat hati-hati persis seperti SBY yang dikhawatirkan bisa lambat mengambil keputusan.
Sedangkan di mata pengusaha properti Yanti Sukamdani Sarjoprakorso, memilih melihat dulu apa yang akan menjadi program Boediono kalau ditunjuk sebagai cawapres.
Bagaimana pandangan pelaku usaha dan pasar terhadap Boediono sebagai cawapres.
Toni Maryono, Praktisi Valas:
Jika SBY memilih Boediono sebagai cawapres itu cukup positif. Dengan pemahaman fundamental ekonomi yang bagus akan sangat membantu jalannya kepemimpinan pemerintah. Paket SBY-Boediono cukup ideal dan sangat diterima pelaku pasar. Dengan kemampuan fundamental ekonominya, kalau jadi pengusaha Boediono akan sangat memahami masalah di perusahaan.
Sikapnya yang sangat hati-hati justru bagus untuk menata ekonomi ke depan agar memiliki fundamental yang bagus. Karena keberlanjutan ekonomi lebih penting ketimbang naik cepat tapi bubble begitu pecah lebih sakit.
Memang dalam ekonomi, untung yang didapat double ketika jatuh lebih besar pula ruginya. Saat ini yang diperlukan adalah sosok yang bisa menata ekonomi untuk ke depan tidak hanya 5 tahun. Kita sudah pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi tapi kemudian bubble dan ketika krisis penyembuhannya malah lama.
Sifat konservatif seperti Boediono akan membuat ekonomi Indonesia berjalan lebih hati-hati dan tidak mengulangi kehancuran-kehancuran seperti krisis di masa lalu. Sifat Boediono yang konservatif bisa didukung dengan tim ekonomi yang progresif sehingga jalannya pemerintahan bisa serirama.
Tapi memang ada kekhawatiran, jika memilih teknokrat akan mudah digoyang di parlemen. Maka itu SBY juga harus membangun koalisi yang bagus untuk mendukung semua kebijakan pemerintahnya nanti.
Dandossi Matram, Praktisi Pasar Saham:
Bodiono bukan orang yang ditolak namun sifatnya yang sama seperti SBY dikhawatirkan akan lambat dalam mengambil keputusan. Boediono bukan tipe pendobrak seperti halnya Sri Mulyani atau Jusuf Kalla.
Pemilihan Boediono bisa jadi karena SBY menginginkan saat ini wapres yang berperan sebagai pendamping sehingga tidak ada dua matahari.
Jika memang SBY memilih Boediono maka yang harus menjadi perhatian utama adalah tim kabinetnya. Para menteri harus benar-benar orang yang berani ambil keputusan tanpa mendapat intervensi dari presiden atau wapres. Terutama tim ekonomi harus memiliki kemampuan yang andal sehingga pasar dan dunia usaha bisa mempercainya bukan sekedar politisi yang tidak memiliki kemampuan.
Kalau memang benar Boediono yang dipilih, sekarang pasar tinggal menantikan konstelasi di parlemen. Karena posisi parlemen ini sangat menentukan agar pemerintahan berjalan kuat.
Yanti Sukamdani Sarjoprakorso, Pengusaha Properti :
Kalangan dunia usaha memiliki kriteria khusus untuk capres dan cawapres. Apakah pasangan SBY-Boediono akan menjadi paket ideal masih harus dilihat dulu program kerjanya.
Siapapun bisa menjadi wapres namun yang jadi masalah apakah mereka memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap permasalahan ekonomi.
Ada 5 kriteria yang harus dimiliki pasangat capres dan cawapres:
1. Harus bisa menciptakan ekonomi yang kondusif, merangsang orang untuk berusaha, menjaga stabilitas mata uang, politik dan negara. Menjamin ketersediaan bahan baku.
2. Menjaga kepastian hukum jangan sampai pengusaha tidak tahu harus mengadu ke siapa terhadap masalah yang dialaminya. Seperti masalah tanah, perjanjian kerja sama.
3. Komitmen membangun infrastruktur sebagai penunjang ekonomi, mulai dari jalan pelabuhan, bandara, telekomunikasi yang bisa melancarakan kegiatan ekonomi.
4. Jangan membuat peraturan yang tumpang tindih seperti masalah pajak atau bea cukai
5. Mencetak sumber daya manusia yang bagus untuk digunakan di dunia usaha.
SBY-Boediono harus bisa membuktikan dulu apakah peduli terhadap 5 kriteria itu.
(ir/lih)











































