Menurut Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Integrated Supply Chain Pertamina Rusnaedy, Pertamina akan mengekspor Avtur karena adanya kelebihan produksi di dalam negeri.
Kebutuhan avtur domestik saat ini sekitar 1,3-1,4 juta barel per bulan. Sementara produksi avtur dari kilang domestik mencapai sebesar 1,5-1,6 juta barel per bulan.
"Jadi, ada potensi ekspor sebesar 100-200 ribu barel per bulan," ujar Rusnaedy saat dihubungi, Senin (11/5/2009).
Menurut Rusnaedy, sejak Maret (2009) Pertamina tidak lagi melakukan impor Avtur. Ini karena ada kelebihan produksi avtur domestik akibat program konversi minyak tanah ke LPG.
"Minyak tanah itu sekarang kita olah menjadi avtur di kilang kita. Sebelum konversi, tadinya kita mengimpor avtur 300 ribu barel per bulan," jelas Rusnaedy.
Rusnaedy menjelaskan saat ini Pertamina sedang menjajaki ekspor avtur ke negara Asia Tenggara dan Asia Timur. "Seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan China. Harga avtur akan kita jual dengan harga pasar internasional," ujarnya.
Rusnaedy menambahkan ekspor avtur ini direncanakan akan dilakukan pada awal Juni. Pertamina sendiri tengah mempersiapkan seluruh perizinan untuk melakukan ekspor.
"Kalau kita ekspor avtur mekanismenya kita harus dapat rekomendasi dari Dirjen Migas dan izin dari Departemen Perdagangan. Untuk dua hal itu sekarang masih dalam proses," paparnya.
(epi/lih)











































