"Rekomendasi ekspornya sudah keluar. Kemarin saya sudah tandatangani. Kalau tidak salah ijinnya untuk tiga bulan. Mulai Mei, Juni dan Juli," ujar Dirjen Migas Evita Herawati Legowo di Gedung Plaza Centris, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (19/5/2009).
Evita menjelaskan ekspor Avtur tersebut dilakukan karena adanya kelebihan produksi minyak tanah sebagai dampak positif dari program konversi minyak ke gas.
"Mereka merubah kerosin menjadi avtur karena spesifikasinya mirip," jelas Evita.
Saat ditanya berapa volume ekpsor avtur yang diizinkan pemerintah, Evita enggan menyebutkan ada. "Volumenya ada tapi tidak hafal," tandasnya.
Evita menambahkan dengan keluarnya rekomendasi dari Ditjen Migas, maka Pertamina hanya tinggal memperoleh izin dari Departemen Perdagangan untuk merealisasikan rencana ekspornya tersebut. "Tinggal izin dari Depdag, dari kami sudah," ucap Evita.
Seperti diketahui, Pertamina (Persero) berencana mengekspor 100-200 ribu barel avtur mulai awal Juni 2009.
Menurut Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, Rusnaedy menyatakan Pertamina akan mengekspor Avtur akibat kelebihan produksi domestik.
Kebutuhan avtur domestik 1,3-1,4 juta barel per bulan. Sementara produksi avtur dari kilang domestik sebesar 1,5-1,6 juta barel per bulan.
"Jadi, ada potensi ekspor sebesar 100-200 ribu barel per bulan," ujar Rusnaedy saat dihubungi, Senin (11/5/2009).
Menurut Rusnaedy, sejak Maret (2009) Pertamina tidak lagi mengimpor Avtur. Ini karena ada kelebihan produksi avtur domestik akibat program konversi minyak tanah ke LPG.
"Minyak tanah itu sekarang kita olah menjadi avtur di kilang kita. Sebelum
konversi, tadinya kita mengimpor avtur 300 ribu barel per bulan," jelas Rusnaedy.
Rusnaedy menjelaskan saat ini Pertamina sedang menjajaki ekspor avtur ke negara Asia Tenggara dan Asia Timur. "Seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan China. Harga avtur akan kita jual dengan harga pasar internasional," tambahnya.
Rusnaedy menambahkan ekspor avtur ini direncanakan akan dilakukan pada awal Juni. Pertamina sendiri tengah mempersiapkan seluruh perijinan untuk melakukan ekspor.
"Kalau kita ekspor avtur mekanismenya kita harus dapat rekomendasi dari Dirjen Migas dan Izin dari Departemen Perdagangan. Untuk dua hal itu sekarang masih dalam proses," paparnya.
(epi/lih)










































