Rata-rata ICP Masih di Bawah US$ 45

Rata-rata ICP Masih di Bawah US$ 45

- detikFinance
Selasa, 26 Mei 2009 16:50 WIB
Rata-rata ICP Masih di Bawah US$ 45
Jakarta - Harga minyak internasional atau Indonesia Crude Price (ICP) rata-rata dari Januari sampai 26 Mei 2009 ini masih di bawah asumsi rata-rata ICP dalam APBNP 2009 yang sebesar US$ 45 per barel.
 
Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (26/5/2009).
 
"Sampai sekarang ICP rata-rata masih di bawah asumsi, atau masih di bawah US$ 45 per barel," ujarnya.
 
Anggito mengatakan dengan realisasi ICP rata-rata tersebut, saat ini pemerintah belum berencana untuk mengubah asumsi ICP dalam APBN-P 2009 karena kenaikan harga minyak dunia baru saja terjadi.
 
"Untuk harga minyak kita lihat paling tidak rata-ratanya selama satu semester, tidak bisa hanya sebentar. Jadi pada Januari-Februari kita dapat margin, Maret kita break even point, dan April-Mei ini kita bayar subsidi untuk premium dan solar," paparnya.
 
Di tempat terpisah, Wakil Ketua Panitia Anggaran Harry Azhar Azis mengatakan, dirinya mengusulkan dalam APBN-P 2009 asumsi ICP diubah menjadi US$ 60-65 per barel atau lebih tinggi dari usulan Departemen ESDM yang sebesar US$ 40-60 per barel.
 
"Karena angka perkiraan kenaikan harga minyak maksimal hanya sampai US$ 80-85 per barel. Artinya rata-rata per tahun US$ 65 per barel," ujarnya ketika dihubungi wartawan.
 
Harry juga mengatakan agar pemerintah mempertahankan asumsi lifting minyak sebesar 960 ribu barel per hari.
 
"Karena hanya 20-30 ribu barel yang diproduksi oleh sumur tua, sisanya bukan sumur tua. Kalau realisasi rata-rata sampai bulan ini kan di bawah itu, cuma 940-an ribu barel per hari, itu mungkin menunjukkan kinerja ESDM dan BP migas yang kurang maksimal. Kita harus genjot itu," kata Harry.
 
Staf Khusus Menteri Keuangan Chatib Basri juga berkomentar mengenai rendahnya realisasi lifting minyak ini, menurutnya harus terus diusahakan agar realisasi lifting bisa mencapai asumsi.
 
"Kalau menurut saya, itu (lifting) memang harus dinaikkan," tukas Chatib.



(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads