Penurunan IHPB terbesar terjadi pada barang ekspor sebesar 2,45 persen, utamanya logam dasar bukan besi, batubara, dan barang-barang dari besi dan baja dasar yang memberi andil masing-masing sebesar -0,8; -0.8; dan -0,04 persen.
Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan disela-sela keterangan pers di Kantor BPS, Pasar Baru, Jakarta, Senin (1/6/2009).
"IHPB barang impor turun 1,24 persen. Sedangkan sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, serta industri maisng-masing naik 0,62; 0,59 dan 0,33 persen," katanya.
Selama April 2009, komoditas yang harga grosirnya turun antara lain barang ekspor bijih nikel (-12,56 persen), batubara (-5,55 persen), barang impor minyak bumi (-5,07 persen), dan alat-alat berat (-1,25 persen).
Sedangkan yang naik dari sektor pertanian antara lain karet (7,2 persen), kapuk (7,12 persen), dari sektor pertambangan dan penggalian, koral (1,4 persen) dan dari sektor industri, minyak kelapa (7,32 persen), minyak diesel (17,48 persen) dan minyak bakar (14,69 persen).
Sementara itu, IHPB bahan bangunan/konstruksi di April 2009 naik 0,12 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga grosir mesin pembangkit dan motor listrik (1,48 persen), bahan bangunan dari kayu (0,83 persen), dan barang galian segala jenis (0,76 persen).
Namun yang mengalami penurunan harga grosir antara lain barang-barang dari besi dan baja dasar (-1,4 persen), kayu gelondongan (-0,55 persen) dan kayu lapis (-0,41 persen).
(ang/ir)











































