Menurut salah satu eksekutif Merpati, penolakan tersebut terkait dengan alasan teknikal dan komersial yang tidak menguntungkan bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.
"Salah satunya dengan ditemukannya crack (kerusakan) pada bagian mesin beberapa waktu yang lalu," ujar sumber tersebut di Jakarta, Rabu (3/6/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Manajemen sudah menyatakan tidak mau ambil kepada tim privatisasi," imbuhnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga tidak gentar jika pihak China melayangkan arbitrase terkait penolakan pembelian pesawat tersebut.
"Ya silahkan saja arbitrase. Kami bisa arbitrase balik karena (China) kirim barang enggak bagus," ucapnya.
Deputi Kementerian Negara BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi (PISET) Sahala Lumban Gaol yang dikonfirmasi mengenai hal tersebut menyatakan, Merpati masih melakukan kajian ulang dari titik awal lagi mengenai pembelian pesawat MA60 tersebut.
"Mereka masih review, masih akan kita lihat nanti. Kalaupun ada usulan (dari Merpati) nanti akan kita bahas bersama," ungkapnya.
Masalah pembelian pesawat dari China oleh Merpati ini sebelumnya sempat menjadi konflik, bahkan membuat pendanaan China untuk program 10.000MW terkatung-katung.
Merpati memang sebelumnya berencana membeli 15 unit pesawat dari produsen pesawat asal China yaitu Xian Aircraft Industry Company Ltd . Dari 15 unit pesawat jenis MA 60 itu sudah 2 unit didatangkan ke Indonesia sementara 13 unit lainnya masih tertunda.
Namun karena harganya dinilai terlalu tinggi, Merpati berencana menegosiasi ulang harga dan jumlah pesawat yang akan dibelinya. Namun pabrikan China tidak terima dan mengancam akan menggugat Merpati sebesar US$ 1 miliar.
(ang/qom)











































