Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan alasan utama pembangunan dua fasilitas tersebut antara lain karena saat ini masih banyak maraknya penjarahan kayu dan rotan di Indonesia.
Faktor penyelundupan pun menjadi masalah yang krusial, yang dipicu oleh kebutuhan kayu dan rotan negara pesaing industri kayu sangat luar biasa seperti ke Cina dan Malaysia. Selama ini juga industri pengolahan kayu masih mengalami kekurangan pasokan bahan baku.
Dikatakannya rangkaian masalah yang dialami industri berbasis kayu selama ini telah menyebabkan penurunan industri di sektor ini. Pembangunan TKT diharapkan bisa menjadi solusi yang tepat.
"Terminal kayu ini sebagai clearing hous e, nantinya pihak bea cukai, kehutanan, bisa memonitor dari titik pertama dan akhir dengan alat tertentu," kata Fahmi dalam acara breakfast meeting di kantor Depperin, Jakarta, Rabu (17/6/2009).
Selain itu kata Fahmi dengan adanya terminal kayu, maka industri berbasis kayu bisa tumbuh dan berkembang karena mendapat suplai dengan cukup.
Dengan adanya terminal kayu juga akan mempermudah proses penelusuran asal-usul bahan baku produk kayu dan rotan yang biasanya disyaratkan oleh para importir di luar negeri.
Berikut ini beberapa lokasi TKT yaitu di Pulau Jawa mencakup di Kabupaten Kendal, yang sudah direncanakan pembangunannya sejak tahun 2004 dan mulai berjalan di anggaran 2008. Ini merupakan kerjasama Depperin dengan Pemda Kendal.
Pembangunan TKT di Kendal sempat terhenti karana masalah administratif, rencananya pada tahun 2009 ini bisa selesai. Lokasi kedua di Pulau Jawa di proyeksikan di wilayah Gresik.
Sementara di wilayah Sulawesi, diproyeksikan pembangunan TKT di Bitung Sulut, akan dilaksanakan pada anggaran tahun 2010. TKT Bitung ini merupakan kerjasama pihak Depperin dan Pemda, dimana Depperin menyiapkan mesin dan peralatan Pemda menyiapkan lahan.
Sedangkan lokasi TKT yang masih dalam tahap rencana adalah pembangunan TKT di Papua.
Sementara itu untuk pembangunan PPIRT mencakup di wilayah Nangro Aceh Darussalam di wilayah Pidie dan Kalimantan Tengah di wilayah Katingan yang sampai saat ini dalam proses pembangunan untuk anggaran 2009. Khusus untuk PPIRT di Sulawesi wilayah Palu sudah beroperasi.
(hen/dnl)










































