Harga Minyak US$ 70, Industri Seperti Kena Nyamuk

Harga Minyak US$ 70, Industri Seperti Kena Nyamuk

- detikFinance
Jumat, 19 Jun 2009 08:33 WIB
 Harga Minyak US$ 70, Industri Seperti Kena Nyamuk
Jakarta - Pemerintah memprediksikan gejolak kenaikan harga minyak mentah dunia tidak akan berpengaruh kepada dunia industri dalam negeri.

Demikian hal itu dikemukakan oleh Deputi Bidang Kordinasi Industri dan Perdagangan Menko Perekonomian Edy Putra Irawady di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (18/6/2009) malam.

"Belum ada (pengaruh), kami belum melihat itu. Kalau kenaikan harga minyak dari US$ 65 jadi US$ 70 (per barel), itu tidak masalah. Seperti kena nyamuk," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, industri yang paling banyak menyerap BBM adalah industri berat, seperti logam, semen dan lain-lain. Sedangkan industri lainnya yang lebih kecil banyak menggunakan energi listrik.

"Kalau untuk sektor yang lain, paling yang kena transportasi, tapi itu kecil sekali
implikasinya," ujarnya.

Meski industri besar banyak menyerap konsumsi BBM, menurutnya saat ini dampaknya belum terlalu terasa. Ia memberi contoh industri baja dan semen, pertumbuhannya masih meingkat seiring dengan peningkatan konsumsi dan pembangunan infrastruktur.

"Artinya semen banyak yang masuk, konsumsi naik sehingga industri baja tersedot.
Jadi demand dia increase," katanya.

Edy memperkirakan, permintaan dan harga minyak akan naik di sekitar penghujung tahun, lebih tepatnya pada saat musim dingin. Di mana pada saat itu beberapa negara memerlukan tambahan konsumsi minyak untuk penghangat ruangan. Pada saat itu, konsumsi minyak rumah tangga bisa menyaingi konsumsi industri.

"Biasanya kenaikan konsumsi untuk heater itu sekitar 12-18 persen. Kecuali di Rusia mungkin (lebih tinggi)," ungkapnya.

(ang/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads