Demikian hal itu dikemukakan oleh Deputi Bidang Kordinasi Industri dan Perdagangan Menko Perekonomian Edy Putra Irawady di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (18/6/2009) malam.
"Belum ada (pengaruh), kami belum melihat itu. Kalau kenaikan harga minyak dari US$ 65 jadi US$ 70 (per barel), itu tidak masalah. Seperti kena nyamuk," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau untuk sektor yang lain, paling yang kena transportasi, tapi itu kecil sekali
implikasinya," ujarnya.
Meski industri besar banyak menyerap konsumsi BBM, menurutnya saat ini dampaknya belum terlalu terasa. Ia memberi contoh industri baja dan semen, pertumbuhannya masih meingkat seiring dengan peningkatan konsumsi dan pembangunan infrastruktur.
"Artinya semen banyak yang masuk, konsumsi naik sehingga industri baja tersedot.
Jadi demand dia increase," katanya.
Edy memperkirakan, permintaan dan harga minyak akan naik di sekitar penghujung tahun, lebih tepatnya pada saat musim dingin. Di mana pada saat itu beberapa negara memerlukan tambahan konsumsi minyak untuk penghangat ruangan. Pada saat itu, konsumsi minyak rumah tangga bisa menyaingi konsumsi industri.
"Biasanya kenaikan konsumsi untuk heater itu sekitar 12-18 persen. Kecuali di Rusia mungkin (lebih tinggi)," ungkapnya.
(ang/qom)










































