"Saya tidak lihat ada dampak secara langsung, itu kan di level shareholder bukan di
level operasional jadi kita bedakan," kata Ketua Umum Aprindo Benjamin J. Mailool saat ditemui disela-sela sidak pasar ritel Mendag di Tip Top Rawa Mangun, Jakarta, Rabu (24/6/2009).
"Pemegang saham Carrefour majemuk sekali, jadi biarpun investor Israel ngambilΒ sahamnya cukup besar tapi ini masih dalam persentase yang kecil," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir, itu alasan pembelian, menunjukan bahwa bisnis ritel ini adalah bisnis yang menarik, istilahnya tradeability-nya.Β Bahwa citra postif terhadap industri ritel ini posiif, besar, industri yang masih berkembang," jelasnya.
Sehingga ia kembali lagi menegaskan masalah penambahan saham tersebut, hanyalah sebatas masalah urusan pemegang saham, bukan lah masalah operasional. Mengingat setiap operasional Carrefour bisa terjadi dimana-mana dan pihak Koor pun menyadariΒ bahwa operasional Carrefour lebih banyak di Eropa dan Asia Pasifik.
"Israel masuk, ya pasti karena Carrefour operasionalnya juga ada di Indonesia. Ini kan di Indonesia operasionalnya tidak sebesar dengan China dan India dan di negara lain yang lebih dulu. Jadi saya lihat dampaknya memang tidak akan terlalu banyak," ucapnya.
Seperti diketahui perusahaan asal Israel Koor Industries Ltd menambah kepemilikan sahamnya di Carrefour SA. Koor membayar 3% saham peritel asal Prancis pada harga 3,5 miliar shekel atau sekitar US$ 886 juta.
Korr sebelumnya telah memiliki 1,76 juta lembar saham atau setara 0,25% saham Carrefour, sehingga menempatkan Koor menjadi pemeganagn saham kedua terbesar di Carrefour SA setelah Blue Capital yang mengusai 13,55%.
(hen/qom)











































