Demikian disampaikan ekonom Aviliani saat ditemui detikcom, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (1/7/2009).
"November-Januari mungkin naiknya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Incumbent tidak akan berani menaikkan BBM. Karena itu sangat krusial bagi pemilihan," katanya.
Namun di sisi lain, kenaikan harga BBM bisa jadi sangat penting untuk menjaga ketahanan APBN. Jika harga minyak mentah terus naik namun harga BBM dalam negeri tidak berubah, artinya subsidi BBM akan semakin membengkak. Akibatnya, defisit APBN bertambah dan kebutuhan utang bisa makin banyak.
"Ini akan bengkak subsidinya. Tahun depan mau tidak mau (harga BBM) harus naik," katanya.
Aviliani mengaku ia termasuk yang tak setuju terhadap keputusan pemerintah yang menurunkan harga BBM tiga kali berturut-turut setelah dinaikkan sebelumnya. Andai saja harga BBM tidak buru-buru diturunkan, maka pemerintah tak perlu khawatir jika menghadapi kenaikan harga minyak.
(lih/qom)










































