Demikian disampaikan Direktur Eksekutif ReforMiner Insititute Pri Agung Rakhmanto ketika dihubungi detikFinance, Kamis (2/7/2009).
"Selama rata-rata ICP masih di bawah US$ 65 per barel, APBN masih aman karena tambahan penerimaan migas masih lebih besar daripada tambahan subsidi yang diperlukan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BBM bersubsidi hampir pasti tidak akan naiklah sampai dengan Oktober nanti. Di samping secara politis akan menurunkan citra SBY, secara hitungan matematis APBN saat ini juga relatif masih aman kok," katanya
Ia menambahkan, harga keekonomian premium saat ini diperkirakan mencapai Rp 5.600-5.800 per liter. Artinya, pemerintah mensubsidi sekitar Rp 1.100-1.300 per liter.
Sementara harga keekonomian solar mencapai Rp 6.000-6.300 per liter sehingga subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 1.500-1.800 per liter.
Dalam laporannya terakhir ke DPR, pemerintah mengakui subsidi BBM membengkak seiring membesarnya disparitas harga minyak dunia dan harga BBM dalam negeri. Namun kenaikan subsidi ini terbantu dari surplus penjualan premium pada Desember 2008 hingga awal 2009.
(lih/qom)











































