Berdasarkan riset AC Nielsen, nilai transaksi penjualan toko tradisional di 2007 tercatat sebesar Rp 50,8 triliun. Nilai ini kemudian naik menjadi Rp 60,4 triliun di 2008 dan menjadikan toko tradisional sebagai penyumbang terbesar (65 persen) dalam transaksi industri ritel yang mencapai Rp 94,557 triliun.
Menurut Associate Director, Retailer Service The Nielsen Company Indonesia, Febby Ramaun, pertumbuhan toko tradisional yang signifikan dalam 5 tahun terakhir disebabkan karena lokasinya yang terjangkau oleh konsumen. Hingga saat ini jumlah toko tradisional di Indonesia mendekati 2 juta buah.
"Sangat mudah dijangkau karena ada dimana-mana. Saat ini saja jumlah toko tradisional di Indonesia hampir mencapai 2 juta buah," kata Febby di Gedung Mayapada Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (2/7/2009).
Febby menjelaskan, pertumbuhan toko tradisional tidak hanya dari segi jumlah namun juga dari segi penjualan, toko tradisional mencatat perkembangan yang luar biasa.
"Jadi tidak hanya jumlah toko saja yang tumbuh, namun juga secara penjualan," jelasnya.
Febby menjelaskan toko tradisional di Indonesia merupakan toko yang paling hidup jika dibandingkan seluruh negara di Asia.
"Toko-toko tradisional di Indonesia rata-rata dikunjungi sebanyak 25 kali dalam setiap bulannya, mengalahkan toko tradisional di Filipina yang dikunjungi 24 kali dalam sebulan," ungkapnya.
Namun masalahnya, kata Febby, para pemilik toko sering kesulitan mendapatkan barang yang akan dijualnya. Hal ini disebabkan mata rantai untuk memperoleh barang tersebut begitu panjang sehingga harga tidak sekompetitif di retail modern.
"Untuk itu perlu dibentuk small or medium distributor center sehingga pemilik bisa mendapatkan barang dengan mudah dan pilihan barangnya lebih banyak," tandasnya.
(epi/lih)











































