Â
"Kita harus realistis selama mau diproduksikan harus ekonomis. Kalau tidak, maka tidak akan diproduksikan," ujar Dirjen Migas Evita Herawati Legowo usai menghadiri perayaan ulang tahun BP Migas, di Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (16/7/2009).
Â
Evita menjelaskan hingga kini pemerintah bersama konsorsium pengelola proyek Senoro (Pertamina-Medco-Mitsubishi) belum selesai menghitung keekonomian proyek. Mereka masih menghitung bagaimana keekonomian proyek seandainya gas Senoro tidak jadi diekspor, melainkan dipasok untuk dalam negeri.
"Kita belum tahu apakah akan dipakai dalam negeri atau di ekspor. Sekarang sedang diperhitungkan bagaimana cara agar proyek tersebut ekonomis," paparnya.
Gas Senoro sebelumnya sudah disepakati untuk diekspor ke pembeli di Jepang yaitu Kansai Electric dan Chubu Electric. Namun belakangan Wapres Jusuf Kalla menginstruksikan agar gas tersebut dipasok penuh ke pasar dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
"Peluang itu masih ada sepanjang domestik berani dengan harga tertentu. Itu bisa saja," ungkapnya.
Â
Menurut Direktur Proyek PT Medco Energi Internasional Lukman Mahfoedz mengakui, kemampuan pembeli memang menjadi faktor penting untuk mengukur keekonomian proyek. Selain itu, lokasi cadangan gas dan jarak dengan pembeli juga sangat menentukan tingkat keekonomian.
"Inilah yang menjadi dasar keekonomian suatu proyek," ujar Lukman dalam pesan singkatnya ke detikFinance, Kamis (16/7/2009).Lukman menjelaskan saat ini pihaknya menggunakan acuan harga minyak US$ 70 per barrel untuk harga gas sekitar US$ 6,2 /mmbtu.Harga itu merupakan harga di konsumen yang terletak jauh dari lokasi cadangan gas, sehingga sudah termasuk biaya tambahan untuk pencairan gas ( menjadi LNG ), ongkos transportasi, ongkos regasifikasi dan selanjutnya pipa penyalur.
Â
"Dengan target harga saat ini (untuk memenuhi keekonomian) maka dibutuhkan harga jual yang tinggi, yang sulit diterima oleh pembeli lokal," ungkap Lukman.
Â
Lukman menegaskan tidak seluruh gas tersebut akan diekspor namun konsorsium akan tetap menyuplai ke domestik. "Yang diusulkan adalah ekspor-LNG ( 335 mmscfd) dan memasok kebutuhan lokal/pabrik yang berlokasi di sana ( 70 mmscfd )," paparnya.
Lukman menyatakan saat ini pihaknya masih terus melakukan negosiasi dengan pemerintah untuk kelanjutan proyek tersebut.
"Kita masih terus mendiskusikan proyek tersebut dengan pemerintah," jelasnya.
(epi/lih)











































