Menurut Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi Departemen Perikanan dan Kelautan Soenβan H. Poernomo, kenaikan volume ekspor tersebut tidak diikuti dengan peningkatan nilai ekspornya yang hanya naik 0,31%.
"Hal tersebut disebabkan oleh adanya penurunan harga udang. Pada triwulan I tahun 2008, harga rata-rata udang ekspor adalah US$ 6.67, sedangkan tahun 2009 ini adalah US$ 6.31," katanya dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Selasa (21/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang tahun 2008, ekspor udang Indonesia mencapai 171.658 ton dengan nilai US$ 1.168 miliar. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dikirim dalam bentuk beku yang mencapai 124 ton (72,41%) dengan nilai US$ 884,674 juta (75,68%).
Untuk udang kaleng mencapai 34.355 ton (20,01%) dengan nilai US$ 231.479 juta (19.80%) dan olahan lainnya sebanyak 13.014 ton (7,58%) dengan nilai
52,768 juta (4.52%).
Menurutnya, harga udang pada pasaran ekspor selama tahun 2008, rata-rata adalah US$ 5.64. Perbandingan harga tiga jenis udang olahan tersebut, untuk harga udang beku rata-rata adalah US$ 7,11 per kilogram, udang kaleng US$ 6,78 per kilogram dan udang dalam bentuk olahan lainnya rata-rata adalah US$ 3,04 per kilogram.
Ia menambahkan, udang sering dilihat sebagai salah satu indikator kondisi ekonomi perikanan, karena komoditas ini memiliki volume dan nilai ekspor terbesar bila dibanding dengan komoditi lainnya.
"Udang memiliki nilai atau harga yang relatif stabil, dibanding tuna dan cakalang yang sering fluktuatif, apalagi rumput laut dan kini mutiara," ungkapnya.
(ang/lih)











































