Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Refor-Miner Institute, Pri Agung Rakhmanto kepada detikFinance, Senin (3/8/2009).
"ICP US$ 60 per barel cenderung terlalu rendah dan berisiko. Asumsi US$ 60 per barel ini cenderung politis. Peluang harga BBM naik tahun depan sepertinya terbuka lebar jika pemerintah hanya memasang US$ 60 ini," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mestinya asumsi tahun depan lebih tinggi daripada itu, seiring perekonomian global yang sudah lebih baik. Yang lebih realistis dan lebih aman dalam hitungan saya adalah US$ 65-70," katanya.
Pengamat perminyakan Kurtubi pun setuju bahwa asumsi ICP sebesar US$ 60 terlalu rendah. Seharusnya pemerintah menggunakan angka US$ 75 per barel sebagai asumsi ICP 2010 karena pada ekonomi AS dan dunia yang sudah pulih dan akan mendorong harga minyak naik.
"Jika lifting dan harga minyak dinaikkan sesuai saran saya tersebut maka besaran RAPBN 2010 bisa ditingkatkan untuk dapat lebih banyak menciptakan lapangan kerja," ungkapnya.
(lih/dnl)











































