Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan di Kantor Kementerian Negara BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (4/8/2009).
"Sudah ada pembahasan satu kali, tapi kami harus bicara lagi dengan Pak Menteri (BUMN Sofyan Djalil). Jumlahnya sekitar 60%, itu memberatkan Pertamina,"ungkapnya.
Ia menilai penarikan dividen sebesar itu terlalu memberatkan perseroan, pasalnya BUMN minyak itu saat ini memiliki banyak kegiatan yang membutuhkan dana cukup besar.
"Kami memiliki banyak sekali kegiatan yang membutuhkan finansial. Jadi harus fair, karena masih ada piutang dari PLN dan Garuda," ujarnya.
Menurutnya, jumlah setoran dividen yang paling ideal bagi Pertamina saat ini berkisar antara 40-35% dari total laba bersih. "Harusnya sekitar 40-45%," imbuhnya.
Sebelumnya, pemerintah meminta tambahan dividen BUMN dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2009 untuk menutupi rendahnya penyerapan pajak.
Target setoran dividen BUMN tahun ini sebelumnya hanya Rp 26,1 triliun, angka tersebut dinaikan menjadi Rp 28,6 triliun.
(ang/dnl)











































