Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai ada 2 alasan yang menyebabkan harga gula di dalam negeri naik bahkan ada yang sampai menyentuh Rp 10.000 per kg.
"Kenaikan ini pasti gabungan dari harga dunia yang naik dan spekulasi dalam negeri," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2009).
Dikatakan oleh JK, lonjakan harga yang terjadi harus diatasi dengan regulasi di dalam negeri untuk menahan pengaruh dari lonjakan harga yang terjadi di luar negeri.
Di tempat terpisah, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi mengatakan, indikasi munculnya spekulasi di dalam negeri dalam bentuk penumbunan gula tidak terbukti.
"Kita sudah melihat angka-angkanya, baik di pedagang, di distributor, atau pabrik makanan dan minuman. Yang bisa kita sampaikan harga internasional dari Januari sampai sekarang, naiknya sudah 100%. Tapi di dalam negeri kira-kira kenaikan 50%, dari Rp 6.500 sampai Rp 7.000 per kg naik jadi Rp 9.000 per kg," tuturnya.
Selain itu, untuk menurunkan harga gula di dalam negeri, pemerintah juga menggelar pasar murah gula di beberapa kota dengan menjual gula kristal putih dengan harga jual Rp 7.000 per kg dan sasarannya adalah konsumen rumah tangga.
"Untuk setiap titik itu 7.500 kg per titik per penjualan. Itu kita bisa melayani sekitar 1.500 sampai 3.500 rumah tangga," ujarnya.
Kemudian pemerintah juga akan nmembuka opsi impor untuk menambah stok gula dalam negeri, namun besarannya masih dibahas.
(dnl/qom)











































