"Diperlukan waktu paling tidak 2 tahun lagi tambahan waktu untuk feasibility study, EPC serta Pendanaan," ujar Direktur proyek Medco Energi Internasional, Lukman Mahfoed dalam pesan singkatnya kepada detikFinance , Jumat (4/9/2009).
Menurut Lukman, masalah utama yang harus dipikirkan adalah sisi pendanaan yang akan sulit didapatkan.
"Masalahnya bukan molor tetapi pendanaan akan sulit didapat karena adanya BMPK, batas maksimum pemberian kredit dan terbatasnya likuiditas dollar bank nasional ," ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro juga membenarkan kalau proyek Donggi Senoro akan mundur jika seluruh gas dari lapangan Senoro dan Matindok dialokasikan ke domestik.
Menurut Purnomo, salah satu hambatan yang akan muncul untuk mengembangkan proyek ini adalah pendanaan. Ia khawatir jika gas
dialokasikan ke domestik, maka kucuran dana dari Jepang sebesar US$ 3,7 miliar untuk pengembangan upstream (hulu) dan downstream (hilir)
proyek ini kemungkinan tidak akan terealisasikan sehingga harus dipikirkan sumber pendanaan lainnya.
Untuk itu jika seluruh gas tersebut dialokasikan untuk domestik, maka harus dipastikan terlebih dahulu sumber pendanaannya.
Meskipun saat ini sudah ada perbankan nasional yang sudah menyatakan kesiapannya untuk memberikan pendanaan, kata Purnomo, namun bank-bank tersebut masih harus melakukan uji kelayakan terlebih dahulu selama tiga bulan terhadap proyek ini.
Sementara itu, Dirjen Migas Evita Herawati Legowo mengakui, meskipun sudah ada tiga calon pembeli domestik yang berminat, namun ia masih belum bisa memastikan dari mana sumber pendanaan untuk pengembangan proyek Donggi Senoro tersebut.
(epi/dnl)











































