Industri plastik hilir tetap tumbuh di masa krisis meskipun persentasenya menurun. Pertumbuhan sebelum krisis tercatat 15% dan saat krisis hanya 7%. Penurunan ini terkendala oleh banyak faktor, yang paling utama adalah ketidakseragaman penggunaan mata uang untuk mengimpor bahan baku dan menjual produk jadi.
Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Cokro Gunawan, saat kunjungan Menteri Perindustrian di PT Danaplast Tbk Cikarang.
Lanjut Gunawan, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih menetapkan dua mata uang dalam transaksi industri.
"Cuma Indonesia yang masih menggunakan dua mata uang. Dengan penerapan ini akan terjadi kerugian. Karena kita impor bahan baku, dengan dolar AS dan menjual produk dengan rupiah," jelas Gunawan.
Kerugian, menurutnya akan menjadi lebih besar dengan menguatnya nilai mata uang rupiah beberapa waktu lalu. Penegasan juga disampaikan Direkur PT Danaplast Tbk Toni Hambali di kantornya. "Tidak seperti negara Vietnam dan Thailand yang telah menggunakan mata uang dalam negeri untuk transaksi,"ujarnya.
Lanjut Toni, penggunaan satu mata uang (rupiah) akan mengefisiensikan biaya produksi plastik, khususnya Industri hilir.
Menanggapi keluhan ini, Fahmi Idris mengatakan aturan kewajibkan transaksi dalam negeri menggunakan rupiah sudah ada namun menurutnya, penerapannya belum lancar.
"Aturan transaksi dalam negeri dengan rupiah sudah ada, tapi penerapannya belum lancar khususnya untuk BUMN," kata Fahmi.
(dnl/dnl)










































