Demikian data yang disampaikan oleh Dirjen Perbendaharaan Herry Purnomo ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (9/10/2009).
"Keseluruhan penyerapan subsidi sampai September 2009 Rp 67,913 triliun atau 42,95%, sementara tahun lalu Rp 178,282 triliun atau 76,06%," ujarnya.
Sementara untuk subsidi listrik juga masih sangat rendah, terlihat sampai September 2009 penyerapan subsidi listrik Rp 30,772 triliun (64,72% dari APBN), turun dibandingkan realisasi peeriode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 49,108 triliun (81,45% dari APBN).
Belanja Pemerintah Masih Rendah
Selain subsidi, Herry mengatakan realisasi penyerapan belanja negara sampai September 2009 masih rendah yaitu Rp 596,788 triliun (59,63%dari APBN), dibandingkan periode yang sama tauhn 2008 yang sebesar Rp 659,41 triliun (66,64% dari APBN).
Realisasi belanja tersebut terdiri dari:
- Belanja Pemerintah pusat Rp 380,956 truilin atau 55,09%, dibandingkan tahun lalu Rp 447,793 triliun atau 64,24%
- Belanja pegawai Rp 99,883 triliun atau 74,7%
- belanja barang Rp 43,722 triliun atau 51,16%
- belanja modal Rp 37,433 triliun atau 51,01%
- Pembayarankewajiban utang Rp 73,024 triliun atau 66,63%, dibanding tahun lalu Rp 65,611 triliun atau 69,21%
- Utang dalam negeri Rp 50,341 triliun atau 71,2%
- Utang luar negeri 22,682 triliun atau 58,32%, dibanding tahun lalu Rp 19,432 triliun atau 67,06%










































