Hal itu diungkapkan Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Bulog Mohammad Ismet seusai workshop 'Ketahanan Pangan' di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (20/10/2009)
"Hingga bulan (oktober) ini, sudah terserap 3,4 juta ton, diharapkan akhir tahun ini bisa terserap 3,8 juta ton," kata Ismet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini untuk program raskin yang bisa menutupi 10 persen dari kebutuhan nasional, sekitar 3 juta ton per bulan," katanya.
Dia mengatakan pengadaan raskin sebesar 15 kilogram untuk setiap rumah tangga miskin di Indonesia telah disalurkan ke 5.000 titik distribusi. Penyaluran raskin itu diharapkan mampu dimanfaatkan 70 juta jiwa penduduk miskin.
Masing-masing keluarga akan mendapatkan beras harga subsidi Rp 1.600/kg. Adanya bantuan beras bersubsidi ini akan membantu 1/3 dari biaya kebutuhan setiap keluarga miskin.
"Program ini sebagai pelengkap dari program pemberdayaan, bantuan ini juga tidak menganggu anggaran yang lain dari keluarga miskin, untuk di masa panjang bisa segera keluar dari kondisi miskin," kata Ismet.
Sementara itu Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof. Dr. Dwijono menambahkan seharusnya pemerintah melalui Bulog tidak hanya mengurusi beras saja tapi juga non beras. Hal itu itu bertujuan untuk mendukung program diversifikasi pangan.
"Jaringan bulog yang luas hingga menjangkau kabupaten dan kecamatan seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengurusi jenis pangan non beras. Bulog jangan lagi mengurusi beras, bisa kedelai, jagung, minyak goreng, ketersediaan pangan harus merata dan terjangkau," kata Dwijono.
Menurut dia, pemerintah seharusnya merusmuskan kembali sistem ketahanan dan kedaulatan pangan secara mandiri berdasarkan kondisi sosial, budaya dan ekologi daerah. Ketahanan pangan kita masih sangat rentan dengan pengaruh luar.
"Karena Indonesia itu negara kepulauan, untuk mengurangi ketergantunagn pangan pada beras harus ada pemberdayaan kembali kelembagaan di tingkat pusat dan daerah, petani dan konsumen. Petani tidak hanya menanam padi saja, tapi juga pangan lainnya," kata Dwijono.
(bgs/qom)











































