Trump Siap Kucurkan Rp 53 T buat Proyek Mineral Kritis & Baterai

Trump Siap Kucurkan Rp 53 T buat Proyek Mineral Kritis & Baterai

Heri Purnomo - detikFinance
Minggu, 09 Agu 2026 22:00 WIB
U.S. President Donald Trump reacts during an event to sign executive orders related to birthright citizenship and the polysilicon industry, in the Oval Office at the White House in Washington, D.C., U.S., August 6, 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pemerintahnya akan menginvestasikan US$ 3 miliar atau setara Rp 53,8 triliun (kurs Rp 17.841) untuk proyek mineral kritis dan baterai listrik.

Trump mengatakan investasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan meningkatkan keamanan nasional serta kebijakan industri.

"Kita sedang merebut kembali tempat Amerika yang seharusnya sebagai negara adidaya mineral dunia," kata Trump dikutip dari Reuters, Minggu (9/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump mengumumkan sejumlah dukungan pendanaan untuk proyek mineral dan baterai. Salah satunya berupa pinjaman bersyarat senilai US$ 1,4 miliar dari Office of Strategic Capital (OSC) Departemen Pertahanan AS kepada Sila Nanotechnologies, perusahaan yang memproduksi komponen baterai lithium-ion.

ADVERTISEMENT

OSC juga memperpanjang pinjaman bersyarat sebesar US$ 400 juta kepada perusahaan penambang skandium Sunrise Energy Metals dan pinjaman bersyarat sebesar US$1 50 juta kepada pengembang magnet Niron Magnetics.

Bank Ekspor-Impor AS akan meminjamkan US$ 58 juta kepada Westwater Resources, Global Advanced Metals, dan 5E Advanced Materials, seperti yang dilaporkan Reuters sebelumnya pada hari Jumat.

"Mineral kritis adalah bahan baku kekuatan Amerika yang menggerakkan segala sesuatu mulai dari persenjataan canggih hingga mobil, dan kami ingin produk-produk penting ini ditambang, dimurnikan, dan diproduksi di sini, di AS," kata Trump.

Gedung Putih membutuhkan mineral kritis untuk mengisi kembali persediaan senjata yang menipis selama konflik Iran dan mengurangi ketergantungan AS pada rantai pasokan Tiongkok.

Pasalnya, pasukan AS telah menghabiskan sejumlah besar rudal berpemandu presisi dan pencegat pertahanan udara selama perang Iran yang telah berlangsung selama lima bulan.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads