Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menyatakan dari inflasi 0,19%, cabe mereah menyumbang 0,03%, lalu jeruk dan bawang putih sebesar 0,02%, bayam, buncis, cabe hijau, dan tomat sayur sebesar 0,01%.
"Jadi, tanpa ada sumbangan dari komoditi apapun, inflasi kita ini tetap 0,19% karena kenaikan harga cabe merah ini. Kalau kenaikan harga cabe tidak ada, maka inflasi akan nol," jelas Rusman.
Rusman mengatakan, peranan kenaikan harga cabe merah ini memberikan dorongan yang besar kepada inflasi Oktober karena cabe mera merupakan komoditi utama masyarakat Indonesia. Karena itu tak heran jika kenaikan harga LPG sebesar Rp 100 tidak berdampak banyak terhadap inflasi dibandingkan dengan cabe merah.
"Kenaikan LPG Rp 100 tidak berdampak besar. Bahkan cabe merah dan cabe rawit yang saya kira tidak pokok malah bikin inflasi karena masyarakat kita menganggap cabe ini masih pokok. Ya, tapi memang kenyataannya begitu," ujar Rusman.
Selain itu, komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi antara lain daging ayam ras sebesar 0,07%, ikan segar sebesar 0,06%, telur ayam ras 0,03%, bawang merah dan minyak goreng masing-masing 0,02%, daging sapi, kentang, dan pepaya sebesar 0,01%.
"Ikan ini bisa menarik angka inflasi sebesar 0,06% karena keadaan laut yang friendly dan persediaan masih ada," ujar Rusman.
(nia/dnl)










































