Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies saat ditemui di sela-sela acara Bogasari Expo 2009, Jakarta, Jumat (20/11/2009).
"Sedang kita pelajari, dalam waktu dekat akan kita buat rilis resminya," kata Ratna.
Ia menjelaskan beberapa produk terigu non standar umumnya berasal dari produk terigu impor eks Turki, yang beredar di Jakarta, Surabaya, dan Makasar. Meskipun ada beberapa produk lokal diantaranya yang berasal dari produsen terigu di Sidoardjo Jawa Timur.
Ratna menambahkan beberapa kecurigaan yang menjadi dasar pihaknya adalah soal label Standar Nasional Indonesia (SNI) khususnya bagi produk impor.
Sementara itu untuk produk lokal yang dicurigai tidak berstandar, didasarkan adanya dugaan tidak melewati prosedur pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena di setiap kemasan tidak dicantumkan kode makanan dalam negeri (MD).
Ia mengharapkan agar masyarakat tetap waspada mengenai beredarnya terigu non standar ini, setidaknya masyarakat dapat melihat dari harga yang ditawarkan. Saat ini kata dia harga terigu di tingkat konsumen berada di kisaran rata-rata Rp 6.500-Rp 7.000 per kg.
Mengenai harga terigu tahun depan ia memperkirakan akan sangat tergantung dengan harga gandum dunia dan fluktuasi kurs dollar terhadap rupiah. Maklum saja saat ini 100% produk gandum sebagai bahan baku terigu diperoleh melalui impor.
"Tahun depan, tergantung harga gandum dan nilai tukar, asal kenaikan harga gandum tidak berlangsung lama tentu terigu tidak naik, apalagi kurs masih di bawah Rp 10.000" katanya.
(hen/dnl)











































