BKPM-Sasol Teken Kerjasama Pengembangan CTL

BKPM-Sasol Teken Kerjasama Pengembangan CTL

- detikFinance
Jumat, 04 Des 2009 10:08 WIB
BKPM-Sasol Teken Kerjasama Pengembangan CTL
London - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan perusahaan Afsel, Sasol menandatangani kesepakatan untuk pengembangan fasilitas coal to liquid (CTL) di Indonesia.

Penandatanganan kerjasama dilakukan Kepala BKPM Gita Wirjawan di kantor Pusat Promosi Investasi Indonesia di London pada Kamis (3/12/2009).

Menurut siaran pers dari BKPM, pemerintah yakin teknologi dari Sasol bisa membawa banyak manfaat. Sasol kini tercatat sebagai salah satu produsen bahan bakar sintetis terbesar di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Teknologi Sasol tersebut dapat mendayagunakan cadangan batubara Indonesia yang besar dan mengurangi ketergantungan Indonesia dari impor bahan bakar," ujar Gita Wirjawan.

Managing Director Sasol Synfuels International, Ernst Oberholster mengatakan, Sasol merupakan penghasil bahan bakar sintesis berbasis batubara satu-satunya di dunia yang beroperasi dalam skala besar dengan kapasitas yang setara dengan 160.000 barel minyak per hari.

"Keberhasilan Sasol dalam mengembangkan teknologi Coal to Liquid (CTL) telah meningkatkan ketahanan energi Afrika Selatan. Selain CTL, Sasol juga memroduksi gas to liquid yang telah dimanfaatkan Afsel dan Qatar," ujar Oberholster.

Gita menambahkan, proyek pengembangan CTL ini sejalan dengan cetak biru kebijakan energi 2025 Indonesia tentang diversifikasi sumber BBM dari minyak bumi ke batubara.

Indonesia saat ini adalah pengimpor bahan bakar minyak, akibat tingginya konsumsi domestik dan penurunan tingkat produksi. Teknologi coal-to-liquid adalah salah satu opsi yang baik karena menggunakan batubara jenis lignite yang berkadar kalor rendah dan sulit di ekspor karena harga pasaran internasional yang tidak ekonomis. Indonesia memiliki kurang lebih 60 miliar ton cadangan batubara, 85% diantaranya adalah jenis lignite.

Teknologi yang dikembangkan Sasol rencananya akan digunakan untuk memproduksi kurang lebih 80,000 barrel bahan bakar berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan transportasi di Indonesia. Nilai keseluruhan proyek diperkirakan lebih dari US$ 10 miliar.

Setelah penandatanganan Nota Kesepakatan ini, Sasol akan menandatangani pula Nota Kesepakatan dengan Pertamina. Ini adalah MoU business-to-business yang akan menjadi basis kerjasama antara Pertamina sebagai off-taker dan sebuah joint venture coal-to-liquid sebagai pemasok bahan bakar sintetis.


(qom/dro)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads