Bagi Fahmi jabatan apapun termasuk direktur utama PLN adalah amanah yang bisa datang dan juga sewaktu-waktu akan terlepas dari genggaman. Sehingga ia menyerahkan sepenuhnya kepada pemegang saham (pemerintah).
"Soal pengganti itu kewenangan pemegang saham, ya kita serahkan saja," kata Fahmi kepada detikFinance, di gardu induk Cawang Minggu (6/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan soal kesiapannya jika memang ia dan direksinya harus diganti oleh pemerintah, dirinya akan menerimanya dengan lapang dada sebagai konsekuensi dari sebuah amanah jabatan.
"Itu urusan pemegang saham, saya diberikan amanah untuk menjadi dirut, direksinya pun begitu kalau nanti amanahnya diambil baik itu wadirut, direktur terkait, itu haknya pemegang saham. Saya kira harus disikapi seperti itu," tegasnya.
Seperti diketahui spekulasi pemicu pergantian dirut PLN hingga saat ini beragam, ada yang menilai pergantian ini karena gagalnya PLN mengamankan kondisi listrik di Jakarta yang berdampak pada krisis listrik di Ibu Kota beberapa waktu lalu.
Bahkan yang lebih ekstrim lagi pergantian itu terkait adanya tekanan dari luar PLN dan perpecahan di tubuh PLN terutama antar direksi.
"Pertanyaan itu mestinya ke pemagang saham bukan ke saya," kilahnya saat ditanya apa yang menjadi pemicu dirinya akan dicopot.
Informasi yang beredar Bos Jawa Pos Group Dahlan Iskan dan dua direksi PLN sudah menjalani wawancara sebagai calon dirut PLN. Bahkan Dahlan Iskan menurut Menneg BUMN Mustafa Abubakar setidaknya sudah dua kali diwawancara.
(hen/qom)











































