Keduanya bisa mengoptimalkan produk kilang dalam negeri milik PT Pertamina (Persero), PT Trans Pasific Petrochemical Indotama dan Pusdiklat Migas Cepu.
"Kami meminta ada kilang-kilang di Indonesia yang bisa dimanfaatkan dioptimalkan untuk keperluan dalam negeri," ujar Dirjen Migas Evita Herawati Legowo usai penyerahan Surat Keputusan (SK) penugasan distributor BBM bersubsidi 2010 di Kantor BPH Migas, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Senin.
Untuk itu, Evita meminta kepada PT Aneka Kimia Raya (AKR) Coorporindo dan PT Petronas Niaga Indonesia untuk bekerja sama dengan Pertamina sebagai pemain lama dalam pendistribusian BBM bersubsidi dan juga produsen minyak di Indonesia.
"Jangan sampai nanti Pertamina mengajukan ijin ekspor, sementara AKR dan Petronas malah mengimpor," ungkapnya.
Kepala BPH Migas Tubagus Haryono menyatakan pengoptimalan penggunakan hasil produk kilang dalam negeri sesuai dengan Perpres Nomor 71 tahun 2005. Hal tersebut ditujukan untuk menekan impor BBM di dalam negeri.
"Kita ingin kurangi impor BBM," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, AKR dan Petronas menyatakan kesiapannya untuk merealisasikan keinginan pemerintah tersebut. Presiden Direktur AKR, Haryanto Adikusumo menyatakan dukungannya terhadap keinginan pemerintah tersebut.
"Kami dukung penggunaan produk dalam negeri. Tahun lalu kami juga sudah membeli BBM dari Pertamina saat produksi di kilang Pertamina berlebih," ungkap dia.
(epi/qom)











































