Demikian hal itu diungkapkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam paparan refleksi 2009 dan proyeksi 2010 BUMN di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (12/1/2009).
"Target pendapatan dan laba bersih itu sudah memasukan faktor FTA sehingga angka tersbeut tidak terlalu konservatif," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sektor energi masih menjadi penyumbang laba terbesar dengan nilai sebanyak Rp 28,43 triliun di tahun 2009, diperkirakan tahun ini bisa menyumbang Rp 35,1 triliun. Diikuti dengan sektor perbankan yang telah meraup laba sebanyak Rp 16 triliun dan diharapkan bisa menyumbang laba Rp 19,5 triliun tahun ini.
Sejalan dengan meningkatnya pendapatan dan laba bersih tersebut, aset BUMN juga ditargetkan meningkat menjadi Rp 2.400 triliun di tahun 2010 dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 2.150 triliun.
Tahun 2010, belanja modal atau capital expenditure BUMN mencapai Rp 184,43 triliun dengan belanja operasional atau operational expenditure Rp 783,72 triliun.
Dividen Interim
Kementerian BUMN mengindikasikan adanya penarikan dividen interim kembali di tahun 2010. Sebelumnya pada tahun 2009, pemerintah telah menarik dividen interim sebanyak Rp 1,6 triliun.
Menurut Sekretaris Kementerian BUMN M Said Didu, melihat kinerja perusahaan plat merah di tahun 2009, pemerintah merasa masih ada kemungkinan untuk menarik dividen tambahan di tahun 2010 melalui dividen interim.
"Kelihatannya bisa saja ada lagi dividen interim tahun ini," katanya.
Namun sayangnya, ia belum menyebutkan berapa jumlah dividen interim yang akan ditarik. Menurutnya, hal itu akan disesuaikan dengan kebutuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2010 nanti.
Tahun lalu, total setoran dividen BUMN yang disetor mencapai Rp 28,6 yang diambil dari kinerja tahun buku 2008. Tahun ini, pemerintah menargetkan setoran dividen sebesar Rp 24 triliun untuk masuk ke APBN 2010.
(ang/qom)










































