PLN Buka Tender PLTU Kaltim dan Riau di Februari

PLN Buka Tender PLTU Kaltim dan Riau di Februari

- detikFinance
Senin, 25 Jan 2010 16:11 WIB
PLN Buka Tender PLTU Kaltim dan Riau di Februari
Jakarta - PT PLN (Persero) akan membuka tender Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kaltim dan Riau pada bulan Februari mendatang. Kedua PLTU tersebut merupakan dua pembangkit tambahan dalam proyek 10.000 Megawatt (MW) tahap I.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan menyatakan, revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 tahun 2006 mengenai proyek percepatan 10.000 MW menyebutkan masuknya dua PLTU baru yaitu PLTU Kaltim dengan kapasitas 2x100 MW, dan PLTU Riau dengan kapasitas 2x100 MW.

"Bulan depan ini (dua PLTU-red) akan segera ditenderkan karena dua provinsi ini memang benar-benar membutuhkan," ujar Dahlan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/1/2010).

Terkait proyek 10.000 MW tahap I, Dahlan mengaku pihaknya telah memiliki berbagai rencana seperti melakukan kajian mengenai standarisasi kualitas batubara yang akan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit.

"Kita inginkan batubara yang cocok dengan pembangkit. Jangan sampai terjadi pembangkit yang kapasitasnya 600 MW, tapi karena tidak cocok yang beroperasi hanya 500 MW," kata dia.

Selain itu, imbuh Dahlan, PLN juga menyelesaikan pembangunan transmisi dan gardu induk untuk menyalurkan listrik dari pembangkit-pembangkit yang akan beroperasi serta melakukan retender PLTU Kalteng, Papua, dan Maluku.

"Untuk tahun ini, kami mengusahakan 3.200 MW dari program 10.000 MW tahap I akan mulai beroperasi," kata dia.

Untuk menyelesaikan krisis listrik luar Jawa Bali, BUMN listrik tersebut juga berencana untuk membangun PLTU-PLTU dengan skala kecil yang tersebar di Indonesia. Total PLTU yang akan dibangun yaitu 150 unit dengan total kapastas 740 MW. Pembangunan PLTU-PLTU tersebut ditargetkan bisa selesai dalam dua tahun.

"Selain untuk mengatasi krisis listrik di luar Jawa Bali, ini juga bisa membuat PLN dapat berhemat Rp 20 triliun per tahun,"Β  tandasnya.

(epi/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads