Dari hasil pengamatan detikFinance di sekitar Pasar Glodok, Jalan Pancoran, Jakarta, Sabtu (6/2/2010), para pedagang parsel Imlek sudah banyak beredar.
Menurut salah seorang penjual parsel bernama Yustin, pemesan parsel tahun ini meningkat 30-40%. Padahal, harga per parselnya pun juga meningkat sekitar 10% atau Rp 50 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisaran harga parsel, jelas Yustin, sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 1,5 juta dengan perpaduan antara makanan dan ornamen Imlek. Pemesan parsel kebanyakan dari perusahaan walaupun pada H-7 seperti hari ini, pemesan lebih banyak dari kalangan pribadi.
"Biasanya kalau H-7, lagi ramai-ramainya tapi dari pribadi saja untuk teman dan keluarga," jelasnya.
Yustin menyatakan produk-produk makanan yang digunakannya dalam setiap rangkaian parsel berasal dari dalam negeri sehingga adanya ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA) tidak berpengaruh terhadap harga-harga parsel yang dijualnya. Namun, lanjutnya, ada produk-produk yang diimpor langsung dari China, seperti minuman dan manisan khas Imlek.
"Kita ngeri juga pakai produk luar, takut kadaluarsa, tapi kalau seperti minuman anggur dan manisan Imlek, kita impor dari China karena adanya hanya menjelang Imlek," ungkapnya.
Lain toko, lain pula rezekinya. Mochtar yang berjualan parsel tak jauh dari Yustin malahan merasa penjualannya tahun ini menurun sekitar 30% dengan harga yang meningkat sampai 20%.
"Padahal saya sudah ambil untung sedikit, sekitar Rp 25 ribu per parselnya, tapi sepertinya daya beli masyarakat sedang menurun," ujarnya.
Menurut Mochtar, adanya AC-FTA tidak memberikan pengaruh terhadap menurunnya harga produk China terutama makanan yang menjadi produk utama dalam bisnis parselnya.
"Kita pakai produk lokal tapi harga produk luar sama saja. Mungkin karena importir dipersulit juga. Setiap pintu tetap kasih duit. Jadi diduga tetap ada 'tarif'-nya," ujar Mochtar.
(nia/dnl)











































