"Sekarang ini sedang dalam proses pengerjaan sekitar 20 kontainer ukuran 20 feet, ordernya sedang berjalan, jumlahnya 200.000 untuk Afrika Selatan," kata Irwan Suryanto pemilik Triple S saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (19/2/2010).
Irwan menjelaskan produksi bolanya bukan untuk dipakai dalam pertandingan piala dunia, namun lebih dipakai sebagai merchandise saja. "Kalau buat pertandingan paling-paling dipakai ribuan, justru buat merchandise sampai jutaan jumlahnya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga ekspor harganya US$ 3-8, tapi justru yang paling banyak US$ 3," katanya.
Ia mengaku memenuhi permintaan ekspor banyak tantangannya, maklum saja persaingan suplai bola di dunia ini sangat ketat seperti dengan Pakistan, China, Vietnam, Thailand dan lain-lain. Namun semenjak ia mendapat lisensi FIFA pada tahun 2009 lalu, produk Triple S sangat dihargai pasar.
"Kalau dulu, waktu saya ekspor pembeli selalu minta diskon, katanya harga di Vietnam dan China lebih murah," katanya.
Padahal kata dia, produk bola yang diakui oleh FIFA adalah produk-produk buatan tangan. Saat ini negara-negara seperti China justru sudah beralih dari produksi bola buatan tangan ke produksi mesin.
"Dulu di China pabrikan buatan tangan sampai 150 pabrik sekarang hanya 10 pabrik saja," katanya.
Saat ini Triple S memiliki kapasitas produksi 1,2 juta unit bola per tahun. Pabrik yang berlokasi di Jalan Liangjulang No 104 Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat. Triple S ditopang oleh 200 karyawan dan 2.,500 perajin yang memproduksi bola sepak, futsal, voli, dan basket.
(hen/dnl)










































