HIPMI: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar

HIPMI: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar

- detikFinance
Minggu, 07 Mar 2010 16:54 WIB
HIPMI: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar
Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengimbau para pengusaha lokal agar memanfaatkan peralihan pusat ekonomi ke kawasan Asia atau yang lebih dikenal dengan Asianisme dengan mendorong industrialisasi ekonomi. Hal ini diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar semata.

"Dalam konteks Asianisme, Indonesia tidak boleh hanya dijadikan sebagai pasar, tapi juga sebagai produsen barang dan jasa dengan kualitas dan harga yang sangat kompetitif bagi pasar-pasar negara Barat," ujar Sekjen HIPMI, M Ridwan Mustofa dalam siaran persnya, Minggu (7/3/2010).

Ridwan menjelaskan, saat ini perekonomian dunia tengah dalam peralihan dari apa yang disebut sebagai Westernisme menjadi Asianisme, yaitu peralihan pusat ekonomi dunia dari dunia barat ke Asia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Asianisme menggantikan Westernisme adalah fenomena atau tepatnya zaman dimana perekonomian dunia digerakan oleh perekonomian di Asia, khususnya India, China dan Asia Tenggara," ujarnya.

Menurutnya, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Ia mengimbau para pengusaha lokal memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan sektor industri Indonesia agar bisa menembus pasar Asia.

"Baru sedikit perusahaan Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menembus pasar internasional. Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar Indonesia bisa menembus pasar Asia dan internasional," ujarnya.

Bahkan di pasar dalam negeri sendiri, lanjutnya, produsen nasional kalah bersaing dengan barang dan jasa impor. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan industri nasional. Sebelum merambah ke pasar internasional produsen nasional sebaiknya mendominasi pasar dalam negeri terlebih dahulu.

Apalagi mengingat ukuran pasar Indonesia yang begitu besar, setiap produsen nasional memiliki kesempatan untuk mencapai skala ekonomis yang cukup besar sehingga menurunkan ongkos produksi secara signifikan.

"Hal inilah yang dilakukan China secara agresif dalam dua dekade terakhir khususnya setelah menjadi anggota World Trade Organization," tambah Ridwan.

Ridwan mengingatkan, bila Indonesia gagal memanfaatkan momentum tersebut, maka industri nasional akan memasuki masa kemunduran (deindustrilisasi).

"Perusahaan nasional yang sudah membangun pangsa pasar selama bertahun-tahun justru khawatir pasarnya tergerus dalam sekejab oleh impor dari China yang jauh lebih murah dengan kualitas yang sering kali lebih baik," imbuh dia.

Untuk itu, ia menyarankan perlu dilakukannya perubahan mentalitas masyarakat agar jangan terlalu fokus pada perdagangan semata, melainkan mendorong mentalitas industri. "Jadi mentalitas kita harus diganti dari mental pedagang menjadi mental industri," tambah Ridwan.

Β 

(dro/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads