Sektor industri makanan dan minuman (mamin) menjadi sektor yang memiliki performa luar biasa meski dihajar krisis. Pertumbuhan industri ini menunjukan pertumbuhan hingga 2 digit per tahun.
"Pasar industri makanan minuman pasti akan berkembang sekalipun krisis. Buktinya tahun kemarin bisa tumbuh 10%. kalau lebih dari 8%, harus waspada karena bahan baku yang diimpor juga besar," kata Dirjen Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (11/3/2010).
Ia mengatakan untuk mengatasi kemungkinan tersebut, maka sektor permesinan dan bahan baku mamin harus digenjot dari dalam negeri, sehingga geliat pertumbuhan industri mamin tak berimbas buruk bagi devisa.
"Kalau tidak akan bahaya, devisanya berkurang, karena impor tinggi," katanya.
Pemerintah berjanji untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan mesin dengan mendorong komponen lokal.
Sementara itu Ketua Komite Tetap Bidang Makanan Minuman dan Produk Tembakau Thomas Darmawan mengatakan selama ini pertumbuhan industri makanan dan minuman rata-rata dipatok oleh pengusaha hingga 10% lebih per tahun. Ia pun sepakat dengan pemerintah mengenai geliat pertumbuhan industri mamin yang berlebihan justru berdampak negatif pada devisa.
"Kalau makanan pertumbuhan tinggi nggak diimbangi mesin repot. Yang kedua sumber daya manusia, kalau nggak diatasi bisa saling bajak, mesin juga harus disiapkan dan bahan baku," jelas Thomas.
Ia mengatakan investasi sektor makanan dan minuman di dalam negeri sangat banyak peminat, sehingga ia optmis investasi Rp 40 triliun pada tahun ini sangat mungkin terjadi. Beberapa investor mamin asing seperti dari Jepang sangat antusias untuk berinvestasi.
"Kemarin di BKPM ada tamu dari Jepang, data yang mau masuk dari Jepang itu industri susu, es krim, yogurt, roti, mereka tertarik di bidang itu. Termasuk minuman, Otsuka, Ajinomoto, Morinaga dan lain-lain," papar Thomas.
(hen/dnl)











































