Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangstu dalam Seminar Peningkatan Daya Saing dan Kesiapan UKM Menghadapi AC-FTA di Kampus Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
"Indonesia memiliki potensi kenaikan pendapatan sebesar US$ 6,9 miliar akibat AC-FTA," ungkap Mari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan ekonomi China terpantau melesat 8-9% pada tahun 2009. Potensi ini menjadikan keuntungan Indonesia karena dapat memasok bahan baku lebih banyak.
"China itu jadi eksportir terbesar. Kita bisa ekspor bahan baku. Untuk migas saja, tercatat kenaikan dari 6,1% pada 2004 menjadi 9,1% di 2009," ungkapnya.
Ia menjelaskan, meskipun porsi impor China dari tahun ke tahun terus meningkat, namun lebih dari 90% adalah produk bahan baku industri sehingga terjadi sinergi kebutuhan antar kedua negara. Indonesia memasok komoditas energi serta CPO, sementara China menyediakan kebutuhan industri.
"Jika Indonesia membatalkan AC-FTA, maka China akan mengenakan skema Most Favoured Nation (MFN) tarif untuk Indonesia, sekitar 10-15%," tegas Ketua LPPM Unika Atmajaya A. Prasetyantoko.
Tambahnya, Indonesia harus mengubah paradigma dari transaksi dagang yang bersifat kompetisi (competitive trade) menjadi komplementer dengan China. Ada banyak faktor, utamanya UKM dan industri kreatif yang memiliki potensi besar terkait AC-FTA.
"Kita memiliki UKM yang kuat di furnitur, garmen, dan kerajinan. Juga di bidang fashion. Jumlah UKM cukup banyak sekitar 90% dari total usaha di Indonesia," ungkapnya.
(wep/dnl)











































