Pengadaan Beras Bulog Seret dan Melenceng dari Target

Pengadaan Beras Bulog Seret dan Melenceng dari Target

- detikFinance
Senin, 05 Apr 2010 12:57 WIB
Mataram - Pengadaan beras oleh Perum Bulog masih seret dan jauh melenceng dari target. Hingga awal April ini, Perum Bulog baru berhasil membeli 196.463 ton beras. Padahal dalam periode yang sama tahun lalu, Bulog berhasil menyerap 832.463 ton.

"Pengadaan Bulog sampai saat ini memang masih sangat sedikit. Jika dibanding tahun lalu, bahkan tidak mencapai seperempatnya," kata Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso di Mataram, Senin (5/4/2010).

Sutarto berada di Mataram untuk memonitoring dan mengevaluasi pengadaan Beras Bulog di NTB, Bali dan NTT. Ia juga memberi pengarahan internal jajaran Bulog Divre NTB, Bali dan NTT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahun ini target pengadaan beras Bulog secara nasional mencapai 3,2 juta ton. Meski pengadaan seret hingga sekarang, Sutarto yakin, target itu akan dapat dicapai.

"Perkiraan kami, April dan Mei ini, pengadaan itu bisa kami genjot," katanya.

Melesetnya target pengadaan beras Bulog ini disebabkan karena cuaca yang tidak bersahabat. Elnino kata Sutarto menyebabkan petani terlambat memulai massa tanam, sehingga berdampak pada mundurnya waktu panen.

Tahun lalu, pada bulan Maret, panen raya sudah dimulai. Namun tahun ini diperkirakan panen raya baru akan berlangsung Mei.

"Lebih dari 50 persen wilayan Indonesia kini memasuki musim kemarau lebih cepat. Ini juga turut mempengaruhi pengadaan," katanya.

Pengadaan beras Bulog seluruhnya untuk menopang kebutuhan beras untuk masyarakat miskin atau raskin, dan juga untuk keperluan operasi pasar, demi menjamin kestabilan harga. Sutarto mengakui, jika pengadaan beras Bulog tak tercapai, dapat memengaruhi dua hal itu.

Terkait kemungkinan impor, Sutarto mengatakan, meski pengadaan beras Bulog masih belum optimal, pemerintah tak memerlukan impor beras tahun ini. Ia memperkirakan, tahun lalu sedikitnya ada surplus tiga juta ton beras. Sementara tahun ini, angka surplus juga diperkirakan naik menjadi empat juta ton.

"Impor saya kira tidak perlu. Bahkan kita akan ekspor, karena kita surplus," ujarnya.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads