Hal ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia ke western buyer asal Jepang yang merupakan pembeli gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) dari kilang Bontang.
Demikian disampaikan Deputi Pengendalian Keuangan BP Migas, W.S Wirjawan di sela acara workshop Financial Breakthrough untuk Pembiayaan kepada Penyedia Barang dan Jasa dalam Negeri pada Kegiatan Hulu Migas, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (15/4/2010)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya komitmen tersebut, maka ia memastikan tidak akan ada perubahan kepemilikan saham keduanya di Blok Mahakam hingga kontrak berakhir di tahun 2017. Sehingga jika Pertamina ingin masuk ke Blok Mahakam, maka itu baru bisa dilakukan setelah 2017.
"Kita sesuai kontrak saja. Perubahan share sangat mungkin setelah 2017 dan itu otoritas pemerintah apakahΒ ada pemilik baru dari perusahaan nasional atau tidak?" kata dia.
Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) berkeinginan untuk masuk ke Blok Mahakam sebelum tahun 2017. Menurut Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, rencananya BUMN Migas itu akan masuk ke Blok Mahakam paling cepat semester I-2010.
Untuk tahap awal, Pertamina mengincar 15-25 persen di blok yang dikelola oleh Total E & P Indonesie tersebut. Baru setelah 2017, Pertamina menjadi pemegang saham mayoritas dan menjadi operator di blok tersebut.
Keinginan Pertamina tersebut didukung penuh oleh Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Menurut dia, Pertamina memang harus didorong untuk masuk ke Blok Mahakam sebelum berakhirnya Production Sharing Contract (PSC) Total EP Indonesie pada 2017.
Total E&P telah memiliki kontrak kerja Blok Mahakam sejak 31 Maret 1967. Kontrak itu akan berakhir pada 2017. Menurut data Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, blok itu telah memproduksi 1,056 miliar barel minyak dan kondensat 12,7 triliun kaki kubik.
Total E&P telah mengeluarkan investasi US$ 13 miliar dengan pengeluaran US$ 19 miliar dan pendapatan bruto US$ 90 miliar. Bagi hasil untuk pemerintah senilai US$ 56 miliar selama 40 tahun. Blok Mahakam dikuasai oleh Total E&P 50 persen dan sisanya Inpex Corporation.
(epi/dnl)











































