Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan potensi terjadinya deflasi di bulan April terbuka, meskipun sangat tipis maksimal 0,1%. Karena beberapa harga kebutuhan pokok mengalami penurunan di bulan ini.
Demikian disampaikan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (28/4/2010).
"April deflasi paling tinggi 0,1%, atau inflasi 0,2%. Potensi deflasi masih ada karena harga beras, sapi, minyak goreng, dan gula pasir turun. Pertama kali gula pasir di bawah Rp 10 ribu, tapi kita belum bisa berani menjamin deflasi atau inflasi, kalau terjadi deflasi atau inflasi tipis," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rusman, ancaman inflasi akan terjadi pada bulan Juni atau Juli nanti, penyebab utamanya adalah musim masuk sekolah. "Jadi ada iuran sekolah yang menyebabkan adanya shock yang menyebabkan kenaikan inflasi," jelasnya.
Selain itu, rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) di bulan Juli sebesar 10% dipastikan akan menyumbangkan inflasi 0,36%.
"Pemerintah harus bisa kontrol barang dan jasa agar jangan naik 10% juga gara-gara listrik. Biasanya banyak pengusaha yang ambil kesempatan dalam kesempitan," tutupnya.
(ang/dnl)











































