Subsidi Listrik Bisa Bengkak Rp 5 Triliun

Subsidi Listrik Bisa Bengkak Rp 5 Triliun

- detikFinance
Rabu, 05 Mei 2010 17:49 WIB
Jakarta - Subsidi listrik dalam APBN-P 2010 bisa membengkak hingga Rp 5 triliun jika rata-rata harga minyak dunia pada tahun ini mencapai US$ 85 per barel.

"Subsidi bisa nambah Rp 3 sampai 4 triliun bahkan Rp 5 triliun, jika rata-rata harga minyak dunia sekitar US$ 85 per barel," kata Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa di Hotel IBIS, Jakarta, Rabu (5/5/2010).

Menurut Fabby, potensi kenaikan besaran subsidi ini tidak hanya berasal dari kenaikan harga minyak dunia. Hal lain yang perlu diwaspadai yaitu kenaikan besaran subsidi dari kelebihan konsumsi BBM oleh pembangkit milik PLN. Apalagi, PLN sudah menyewa genset untuk mengatasi krisis listrikΒ  jangka pendek di seluruh Indonesia sehingga akan memperbesar porsi pemakaian BBM yang digunakan perseroan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut perhitungannya, jika konsumsi BBM PLN lebih 1 juta KL saja dari kuota BBM yang diterapkan sebesar 9 juta KL maka subsidi listrik bisa bertambah jadi Rp 8 triliun.

"Tapi kalau tidak pakai BBM, masak listrik dibiarkan mati. Itu tidak mungkin kan?" kata dia.

Untuk menekan potensi itu, imbuh Fabby, seharusnya pemerintah mendorong efisiensi energi dengan memastikan pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar gas bisa tetap mengkonsumsi gas.

Terkait rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dengan rata-rata 10% pada bulan Juli mendatang, Fabby menilai dampak kenaikan tersebut terlalu kecil apalagi jika TDL untuk pelanggan 450-900 VA tidak ikut dinaikkan.

Menurut dia, kenaikan tarif bagi pelanggan golongan tersebut harus dilakukan karena hingga saat ini para pelanggan ini hanya membayar sepertiga dari biaya pokok produksi listrik PLN.

"Gap antara harga jual dengan BPP-nya masih sangat tinggi sehingga kalau ini tidak dinaikkan maka rentangnya akan semakin banya. Jadi harusnya 450-900 VA ini harusnya tidak lepas dari kenaikan," kata dia.

Ia menambahkan, kenaikan TDL sebesar 10% untuk golongan 450-900 VA tersebut tidak akan membebani dan mempengaruhi daya beli pelanggan golongan itu.

"Meskipun TDL dinaikkan 20% bebannya tidak akan terlalu besar. Untuk pelanggan 450 VA misalnya rata-rata tagihan listriknya hanya Rp 40.000-50.000 per bulan. Kalau naik 20% maka naiknya sekitar Rp 10.000. Itu tidak akan kurangi daya beli mereka," paparnya.

(epi/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads