Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan kerugian Perum Bulog sekitar Rp 720 miliar di tahun buku 2009 akibat kurangnya dana public service obligation (PSO) dari pemerintah. Kekurangan dana PSO itu diharapkan bisa dibayar tahun ini.
Demikian hal itu dikemukakan oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (6/5/2010).
"Itu kan biasa terjadi kalau harga jual Bulog itu belum ter-cover semua oleh ketersediaan dana pemerintah pada tahun berjalan, biasanya kekurangan itu ditutup pada tahun berikutnya, dan itu sering terjadi. Jadi sebetulnya bukan rugi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu kan dana PSO, bukan bisnis komersialnya Bulog, itu adalah PSO sama dengan alpha-nya Pertamina, sama dengan marginnya PLN," tukasnya.
Ia menampik kerugiannya tersebut disamakan seperti kerugian yang diderita oleh PT Merpati Nusantara atau PT Djakarta Lloyd karena ini merupakan murni kekurangan dana dari pemerintah sehingga terjadi defisit.
Dengan adanya kerugian tersebut, Mustafa sudah memanggil Direksi Bulog untuk rapat bersama. Tidak hanya membahas masalah kerugian, tetapi juga masalah lain seperti stok dan kualitas beras.
"Atas usul dewan pengawas, saya memanggil mereka (direksi) rapat disini, kita analisa masalah kualitas beras, masalah lambatnya pembentukan stok, masih kurangnya bayaran pemerintah yang diistilahkan rugi. Tolong perbaiki ini," ujarnya.
(ang/qom)











































