RI Bidik Pendapatan Rp 1.086 Triliun di 2011

RI Bidik Pendapatan Rp 1.086 Triliun di 2011

- detikFinance
Rabu, 02 Jun 2010 09:30 WIB
Jakarta - Pendapatan negara pada tahun 2011 diproyeksikan mencapai Rp 1.086,7 triliun atau naik 9,5% dari perkiraan tahun 2010. Faktor pendukung utama pendapatan negara di 2011 yakni peningkatan penerimaan perpajakan, perbaikan kebijakan di bidang kepabeanan dan cukai, serta PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).

"Proyeksi itu tentunya tidak terlepas dari perbikan kondisi ekonomi makro tahun 2011 dan berbagai upaya internal baik di bidang perpajakan maupun PNBP," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR-RI mengenai pembicaraan pendahuluan RAPBN tahun anggaran 2011 di Gedung DPR-RI, Senayan, Selasa malam (01/06/2010).

Agus mengungkapkan dalam hal perpajakan pihakmnya akan berusaha memperbaiki sistem administrasi dan berusaha untuk menggali potensi perpajakan. Oleh karena itu diharapkan ada upaya untuk meningkatkan pemeriksaan pajak, pemberian intensikasi dari penagihan piutang pajak serta perbaikan mekanisme keberatan ataupun banding.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi kepabeanan, Agus mengungkapkan pemerintah akan berusaha melakukan optimalisasi penerimaan dengan langkah kebijakan meningkatkan pelayanan dan pengawasan serta penyesuaian beban cukai. Sementara dalam PNBP, Agus menegaskan upaya peningkatan produksi SDA serta efisiensi BUMN.

"Peningkatan pelayanan kementerian dan lembaga serta badan layanan umum akan kita upaya semaksimal mungkin," tuturnya.

Pada kesempatan itu, Agus juga menyampaikan pokok-pokok kebijakan belanja negara tahun 2011 yang diperkirakan akan mencapai Rp 1.204,9 triliun atau meningkat 7 persen dari tahun 2010.

"jadi untuk tahun 2011 proyeksinya pendapatan negara Rp 1.086,7 trilun, penerimaan perpajakan sebesar Rp 839,9 triliun, PNBP sebesar Rp 243,5 triliun dan hibah sebesar Rp 3,2 triliun. Sedangkan untuk pos belanja negara dari pemerintah pusat sebesar Rp 840,9 triliun dan transfer daerah mencapai Rp 364,1 triliun," tukasnya.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads