G-20 Minta Anggotanya Turunkan Jumlah Utang

G-20 Minta Anggotanya Turunkan Jumlah Utang

- detikFinance
Senin, 07 Jun 2010 20:15 WIB
Jakarta - Pemerintah menyatakan krisis utang di Eropa perlu diwaspadai karena bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dunia yang sudah dalam kondisi yang baik. Forum negara anggota G-20 meminta anggotanya untuk segera menurunkan jumlah utangnya sehingga terhindar dari dampak krisis utang yang terjadi di Eropa saat ini.

"Jadi ada 1 yang perlu diwaspadai adalah pertumbuhan ekonomi dunia lebih bagus dari yang diperkirakan artinya perkembangan 2010 cukup bagus. Tetapi kita mewaspadai perkembangan ekonomi di Eropa dan itu diwaspadai sama-sama karena bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dunia yang sudah dalam kondisi yang baik," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (7/6/2010).

Agus menyatakan krisis Eropa ini sempat menjadi pembahasan dalam pertemuan para menteri keuangan negara G-20 di Busan, Korea Selatan, pekan lalu. Dia menceritakan bahwa banyak dari negara yang mengalami defisit APBN hingga 8-10%. Untuk itu, forum tersebut merekomendasikan untuk melakukan konsolidasi fiskal bagi negara-negara yang punya ratio utang yang tinggi diharapkan berani untuk bisa menurunkan rasio utangnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kita membicarakan di situ negara-negara di dunia diharapkan bisa menjaga fiskalnya dengan cara konsolidasi yang baik dan itu membuat kita semua waspada tapi kita tahu di Indonesia sekarang ini sedang diusulkan kebijakan ekonomi makro dan kebutuhan pokok fiskal 2011. Di 2011 saja kita punya rencana defisit APBN akan diturunkan dari 2,1 menjadi 1,7% itu sejalan dengan signal yang di sampaikan di G-20," jelasnya.

Selain itu, Agus menyatakan forum G-20 mengharapkan semua negara dapat melakukan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkesinambungan, dan seimbang. Yang dimaksud seimbang, jelasnya, menjaga azas insikuitas wilayah harus dijaga. Bahkan, masyarakat miskin harus dijaga agar bisa menikmati pertumbuhan ekonomi itu.

"Itu sejalan dengan apa yang dilakukan Indonesia, di mana Indonesia menekankan salah satu yang jadi target utama adalah pertumbuhan ekonomi yang diharapkan pertumbuhan influsif dalam arti mengedepankan kewilayahan di mana ada wilayah-wilayah yang pertumbuhan ekonominya masih rendah masyarakat income GDP-nya masih rendah supaya bisa diperhatikan kita juga menjaga azas keadilan," jelasnya.

Selain itu, G-20 juga menyarankan agar perbankan bisa melakukan penyehatan dengan menjalankan kebijakan-kebijakan sektor perbankan dengan mengedepankan best practice, agar bank itu menjaga modal dan likuiditasnya senantiasa baik.

"Itu juga sejalan dengan kondisi Indonesia di mana kita punya perbankan sejauh ini menunjukan kualitas kredit modal dan likuiditas yang baik," ujarnya.

Oleh karena itu, diharapkan negara-negara yang berkembang mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menjaga likuiditas.

"Tapi tentu kita harus waspada jangan sampai terlena dan nanti tahu-tahu dampak krisis Eropa bisa kena pengaruh ke Indonesia. Dalam forum itu dijelaskan negara-negara berkembang ada potensi resiko masuknya dana-dana yang short term yang bisa-bisa dana itu keluar karena ada persepsi yang berubah dari pemilik dana," tegas Agus.

Untuk mengatasi krisis tersebut di dalam negeri, Agus Marto menjelaskan pentingnya menjaga kepercayaan diri dengan menjaga APBN.

"Kita mesti hati-hati tapi pertama kita bisa buktikan negara kita secara moneter dan fiskal baik makro sehat itu Insya Allah kita akan bisa menghadapi ini semua dengan baik. Kita harus disiplin dan menjaga penyerapan anggaran belanja bisa betul-betul baik sehingga likuiditas masuk ke regional dan daerah bagaimana kita mempersiapkan infrastruktur kita atau pun mempersiapkan penjagaan penerimaan yg baik. Jadi itu sesuatu yang biasa gak perlu panik tapi waspada. Pemerintah sangat berjaga-jaga dan ingin menghadapi ini dengan baik dan seksama," tukasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads