Diisi Pengusaha, KEN Yakin Rekomendasinya Bergigi

Diisi Pengusaha, KEN Yakin Rekomendasinya Bergigi

- detikFinance
Rabu, 16 Jun 2010 09:46 WIB
Diisi Pengusaha, KEN Yakin Rekomendasinya Bergigi
Jakarta - Komite Ekonomi Nasional (KEN) optimistis bisa mengerjakan delapan tugas yang diberikan Presiden SBY. Bahkan KEN yakin mampu memberikan rekomendasi yang berbobot agar bisa dipertimbangkan oleh pemerintah.

"KEN sudah diberikan 8 tugas dari presiden untuk memberikan rekomendasi," kata Anggota KEN Sandiaga Uno saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa malam (15/6/2010).

Sebagai anggota KEN, Sandi yakin KEN bisa melaksanakan tugasnya dengan baik karena diisi oleh kalangan pelaku usaha yang memang menjadi praktisi dibidang ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya rasa KEN bisa berperan karena diisi oleh praktisi dan pemikir sektor riil," jelasnya.

Sayangnya Sandi tak berkomentar soal banyaknya anggota KEN yang terkesan berasal dari para pengusaha yang 'dekat' dengan Presiden SBY.

Sebelumnya Presiden SBY menunjuk pemilik Para Group, Chairul Tanjung sebagai Ketua KEN. Komite ini bertugas untuk memberikan masukan kepada Pemerintah sebagai bahan pengambilan kebijakan.

KEN yang didirikan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 31/2010 terdiri dari 24 akademisi, praktisi dan ahli ini diketuai Chairul Tanjung, dengan wakil ketua Chatib Basri, serta sekretaris Aviliani.

Beberapa pengusaha masuk dalam anggota KEN antara lain, Sandiaga Uno, Sri Hartati Murdaya, James T Riadi, Peter Gontha, Erwin Aksa serta M Syafii Antonio.

SBY  memberikan 8 pekerjaan rumah (PR) kepada KEN yang harus diselesaikan dalam waktu 6 bulan.


  • Pertama membuat APBN yang kredibel dan berkelanjutan.
  • Kedua mengenai economic conectivity yang menyambungkan antar pulau dan antar provinsi.
  • Ketiga rantai logistik berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing provinsi.
  • Keempat, pengurangan kemiskinan.
  • Kelima, pengurangan pengangguran dan penciptaan lapangan kerja.
  • Keenam, ketahanan pangan dan air.
  • Ketujuh, ketahanan energi.
  • Kedelapan, mengembangkan sumber pembiayaan dalam negeri yang berkelanjutan seraya mengurangi beban utang luar negeri.
 

(hen/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads