Namun G-20 dianggap sebagai media yang efektif bagi negara-negara berkembang untuk menyampaikan pendapatnya. Paling tidak sebagai penyeimbang dari keberadaan forum G-8 yang selama ini menjadi representasi negara-negara maju.
"Dengan adanya G-20 justru sebagai penyeimbang dari G-8, kalau G-8 benar-benar berbasis negara maju," kata Sekjen Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Anggito Abimanyu yang juga mantan Kepala BKF, saat dihubungi detikFinance,
Minggu (27/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira nggak yah, justru G-20 forum utama perekonomian dunia, yang didalamnya ada negara-negara berkembang," katanya.
Ia menambahkan G-20 dari perkumpulan kapitalis karena isu pembangunan juga dibahas dalam setiap pertemuan KTT G-20.
"Jadi tidak hanya sektor keuangan, bagaimana regulasi untuk melindungi rakyat, yang selama ini justru terlalu liberal," jelas Anggito.
Dikatakannya, adanya G-20 malah bisa memberikan ruang pendapat negara berkembang agar suaranya bisa diakomodir. Selain itu secara gengsi, posisi G-20 lebih tinggi dari G-8.
Hari ini Anggito telah mendapatkan draft awal pembahasan G-20 di Toronto Kanada. Ia berharap usulan Indonesia mengenai adanya global safety net bisa goal pada KTT G-20 kali ini.
"Saya belum baca, saya sudah dapat draft-nya, meski tentunya pembahasan akan dinamis dan bisa berubah," katanya.
Seperti diketahui pada KTT G-20 di Toronto mendapat protes dari banyak aktivis. Demonstran yang beraksi di Toronto sejak Sabtu (26/6/2010) pagi berjumlah sekitar 10 ribu orang. Demo dipusatkan di kawasan Queens Park, sekitar 3 KM dari kawasan red zone. Mereka terdiri dari para aktivis dari berbagai organisasi.
(hen/qom)











































